
PEDULI PENDIDIKAN: Bripka Heri menyalami pada murid TK Bumi Damai Indonesia, Dukuh Krambil, Gunungkidul.
Banyak Anak Kecil, tetapi TK Terdekat 5 Kilometer Jauhnya
Mengandalkan tukin sendiri, Bripka Heri Prasetyo tergerak membangun TK setelah mendengar keluhan warga tentang ketertinggalan anak-anak mereka. Niat baik itu bersambut uluran kebaikan dari berbagai pihak. Mulai wakaf tanah plus bangunan sampai para pengajar yang awalnya tidak mau dibayar.
ILHAM WANCOKO, Gunungkidul
---
BRIPKA Heri Prasetyo menggeber sepeda motor lawasnya menuju ke selatan Jogjakarta. Untuk kali pertama dia akan ke Dukuh Krambil, Panggang, Gunungkidul, sebuah daerah pelosok yang jarang terjamah pembangunan dan bantuan.
Heri hendak berbakti sosial, atas inisiatif pribadi. Dia memang terbiasa menyisihkan penghasilan, bahkan, sebelum memakai seragam cokelat khas Korps Bhayangkara. Sedekah, infak, zakat, atau apa pun namanya.
”Saya bawa sembako ke Krambil waktu itu,” ujar pria 35 tahun yang menjabat Bintara Subbidang Provos Bidpropam Polda DIJ tersebut kepada Jawa Pos mengenang perjalanannya pada akhir 2019 lalu itu.
Di sela beragam ucapan terima kasih warga dukuh berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Jogja itu setiba di lokasi, ungkapan lain terdengar. ”Pak Polisi, banyak anak kecil di sini, tapi (kami, Red) tak punya TK (taman kanak-kanak),” ungkap seorang perempuan kepada Heri.
TK terdekat ada di Giri Karto, jaraknya lebih dari 5 kilometer. Karena itu, para orang tua terpaksa tidak memasukkan anak-anak mereka ke TK. Dampaknya terlihat nyata, saat masuk sekolah dasar (SD), anak-anak Krambil tertinggal. ”Bahkan, dikenal anak-anak Krambil ini selalu ranking akhir di SD,” terang Kepala Dukuh Krambil Santoso.
Sebelum berani memberi kabar bakal membangun TK ke warga Krambil, sang istri Anggie Rizki Amalia yang lebih dulu terkejut. ”Lha wong, tiba-tiba saya bilang, ’Ma aku ingin membangun TK.’ Wajar kalau istri langsung meloncat kaget,” kenangnya seraya terbahak.
Biaya jadi pertanyaan utama sang istri. ”Kamu kan bekerja. Bangunnya pakai tukin (tunjangan kinerja)-ku saja,” ujar Heri ke Anggie.
”Apa cukup?” tanya Anggie, seperti ditirukan Heri. Heri pun meyakinkan bahwa tukinnya yang sebesar Rp 2,7 juta itu pasti cukup.
Dengan tukin tersebut, Heri mampu menjalankan operasional sekolah. Gaji setiap guru Rp 500 ribu, dengan empat guru yang mengajar. Lalu, Rp 700 ribu untuk peralatan dan operasional sekolah.
Tapi, untuk membangun TK, Heri tetap harus merogoh tabungan. Untuk menyewa rumah, merenovasi bangunan, dan membeli beragam alat permainan. Ternyata tidak cukup. ”Akhirnya gaji juga ikut terogoh,” ujarnya dalam kesempatan wawancara kedua dengan Jawa Pos (1/10).
Namun, ada saja uluran kebaikan. Saat awal mencari rumah untuk sekolah TK, banyak warga yang menawarkan. Bahkan, ada yang tidak mau dibayar sewa. ”Saya tidak ingin membebani, jadi tetap saya bayar sewa setahun Rp 1 juta,” jelasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
