
PAPARKAN PERJUANGAN: Komandan Lanudal Juanda Kolonel Laut (P) Muhammad Tohir (kiri) memberikan penjelasan tentang isi Museum Penerbangan TNI-AL kepada staf dan kolega di Lanudal Juanda. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)
Tak hanya mengenal dunia penerbangan militer. Pengunjung juga dibawa ke masa lampau untuk menapaktilasi sejarah. Khususnya saat di atas tower air traffic control (ATC). Bangunan berlantai lima itu sangat bersejarah. Dulu tower tersebut tak hanya digunakan untuk mengatur lalu lintas pesawat sipil, tetapi juga untuk membantu misi khusus. Yakni, pembebasan Irian Barat.
WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya
Tak ada yang berbeda di tower lama ATC di kompleks Lanudal Juanda. Sekilas, bangunannya sama dengan gedung di Lanudal Juanda pada umumnya. Di bagian depan, dipajang helikopter Bolcow BO-105 dan pesawat Tampico TB-9. Letaknya bersebelahan. Meski tak lagi bisa dioperasikan, dua sarana militer itu seakan memikat siapa saja yang berkunjung ke gedung tersebut.
Pertama masuk, yang kita saksikan bukan barang museum. Melainkan runway Bandara Juanda. Jika beruntung, pengunjung bisa mendapatkan bonus pemandangan. Sebab, di balik pintu kaca tebal, sesekali terlihat pesawat sedang take off.
Begitu membuka pintu museum, deretan pigura seolah menyambut kedatangan. Jumlahnya mencapai puluhan pigura. Di sana terpampang foto para pejabat TNI-AL. Mulai kepala staf TNI-AL (KSAL) yang pertama hingga sekarang. Bahkan, beberapa adalah perwira yang gugur. Khususnya para penggawa penerbang TNI-AL.
Koleksi museum Puspenerbal cukup banyak. Jumlahnya hingga ratusan koleksi. Pengunjung sering kebingungan. Mana yang harus dinikmati dulu. Miniatur pesawat, helikopter, hingga amunisi pun ada. Termasuk kelengkapan awak pesawat.
Puluhan jenis miniatur bisa dilihat, tetapi tidak boleh disentuh. Beberapa miniatur adalah pesawat patroli pasrat di skuadron 400 serta helikopter jenis NBell-412, NBO-105, dan NAS-332 Super Puma. Selain itu, ada pesawat sayap tetap (fixed wing) untuk keperluan transportasi dan patroli maritim. Yaitu, CN-235 MPA (maritime patrol aircraft), NC-212, dan Nomad.
Bukan hanya itu, di sana terdapat pula berbagai koleksi peralatan tempur TNI-AL. Misalnya, torpedo jenis MK-44/46. Bom laut tersebut dikendalikan pilot secara elektrikal. Bom itu pernah digunakan di helikopter antikapal selam (AKS) WASP AH-12A pada 1978.
Selain memamerkan aneka koleksi perlengkapan tempur, Museum Puspenerbal Juanda menyediakan ruang khusus. Namanya ruang sinema. Di sana pengunjung bisa melakukan napak tilas dengan menyaksikan video. ’’Di sini akan ada tayangan sejarah perjalanan penerbangan TNI-AL,’’ tutur Komandan Lanudal Juanda Kolonel Laut (P) Muhammad Tohir.
Meski tak luas, ruang sinema memiliki nuansa khas. Kursi yang dipakai adalah bekas kursi pesawat. Ruangan itu dilengkapi screen besar dan kedap suara. Pengunjung diajak melihat perjuangan masa lampau. Termasuk wujud awal Pangkalan Udara Juanda.
Setelah puas diajak flash back, jika beruntung, pengunjung bisa melihat persiapan prajurit yang hendak terbang. Hanya, tempatnya terbatas. Sebab, mereka butuh konsentrasi tinggi.
Bukan hanya koleksi. Tepat di tengah ruang museum terdapat miniatur area bandara. Lengkap dengan data-datanya. Pengunjung bisa melihat luas wilayah lanudal yang mencapai 932 hektare. Baik di wilayah Surabaya maupun Sidoarjo.
Tohir mengungkapkan, Museum Puspenerbal awalnya berada di lingkungan Puspenerbal. Nah, karena ada perombakan gedung, akhirnya Museum Puspenerbal dipindah ke tempat sekarang. Di samping itu, tujuannya adalah mengembalikan nilai sejarah tower ATC. Bangunan tersebut memiliki banyak nilai sejarah.
Tohir menuturkan, dipindahkannya Museum Puspenerbal ke tempat sekarang setidaknya bisa memberikan sensasi tersendiri bagi pengunjung. Sebab, tower itu memiliki lima lantai. Fungsi setiap lantai berbeda-beda. Mulai tempat istirahat, ruang kendali traffic pesawat, hingga untuk melihat radar pesawat musuh.
Bangunan tersebut sudah berusia 56 tahun. Pembangunannya disiapkan untuk membantu misi khusus. Yakni, pembebasan Irian Barat. Jadi, ada beberapa pesawat yang ikut operasi dulu. Sebagian lalu lintasnya dikendalikan dari tower ATC tersebut.
Sayang, fungsinya harus berakhir pada 2006 dengan perkembangan traffic pesawat di Bandara Juanda. Menara ATC dipindahkan ke gedung baru. Tepatnya di sekitar kantor Angkasa Pura I.
Jika di lantai dasar disuguhkan ratusan macam koleksi, di atas atau puncak bagian tower pengunjung akan mendapat pemandangan yang indah. Hamparan runway T1 dan T2 Bandara Juanda terlihat jelas. Belum lagi saat ada pesawat yang take off atau landing. Sangat indah. Cocok dijadikan sebagai spot foto.
Hanya, dibutuhkan kondisi fisik yang prima. Sebab, tak ada lift untuk naik ke atas. Semua hanya lewat tangga. Lumayan sekalian berolahraga. Toh, di atas dibayar dengan pemandangan yang indah.
Rencananya, kata Tohir, khusus di bagian lantai 5 tower ATC dibangun kafe. Jadi, pengunjung bisa makan dan minum saat berada di atas. ’’Sekarang masih proses sekaligus memperbaiki yang bagian bawah,’’ terangnya.
Museum Puspenerbal resmi beroperasi pada Maret lalu. Peresmiannya pun langsung dihadiri KSAL Laksamana TNI Yudo Margono. Menurut Tohir, kunjungan ke museum saat ini masih terbatas. Tak seperti sebelumnya. Penyebabnya adalah pandemi.
Meski begitu, cukup banyak yang berkunjung ke museum secara virtual. Jadi, beberapa guru datang ke lokasi. Muridnya berada di rumah masing-masing dan melihat koleksi hanya dari virtual. Caranya, mengakses aplikasi virtual online yang disiapkan para guru.
Kondisi itu berbanding terbalik ketika sebelum pandemi. Saat itu jumlah pengunjung per hari bisa mencapai 700 orang. Sekarang sehari hanya sekitar delapan orang. Itu pun dengan protokol ketat. Di antaranya, wajib memakai masker dan menjalani pengecekan suhu tubuh.
Sebagian besar pengunjung berasal dari sekolah. Baik dari wilayah Sidoarjo maupun Surabaya. Mulai SMA, SMP, SD, hingga TK. Namun, kebanyakan adalah siswa SD dan TK. Mereka sangat tertarik dengan dunia kedirgantaraan militer. Museum tersebut dibuka setiap hari. Kecuali hari libur nasional. Museum itu beroperasi sejak pukul 08.00 sampai pukul 15.00.
Tohir berharap museum tersebut bisa membantu memberi gambaran sejarah. Khususnya bagi anak-anak dan remaja. Apalagi lokasinya di tower ATC. Bangunan sejarah itu sangat berperan penting pada perkembangan penerbangan Indonesia. ’’Baik sipil maupun militer. Ditambah lagi, area tersebut adalah pangkalan udara pertama yang dibangun pemerintah Indonesia,’’ tandasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=gM-qQL3J2C0

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
