
BERSYUKUR: Rusdi (kiri) bersama anaknya, Ainun, menghibur Alif yang masih berusia sebulan. Proses persalinan dibantu dukun beranak karena tidak bisa dilakukan di RS. (Eko Hendri/Jawa Pos)
Pemerintah mengimbau para ibu hamil (bumil) untuk tidak berkunjung ke rumah sakit agar tidak terkena virus korona jenis baru atau Covid-19. Mereka tak punya banyak pilihan. Sebagian bumil terpaksa melahirkan di dukun beranak dengan metode lawas dan peralatan seadanya.
EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya
Air mata Ainun Fitriyah menetes saat melihat wajah putra bungsunya, Alif Ziyat. Dia mencoba menenangkan buah hatinya. Alif yang sempat menangis keras akhirnya berhenti setelah ditimang dan diusap-usap punggungnya.
Ainun merasa bahagia. Putra hasil perkawinannya dengan Samsul Arifin itu tumbuh sehat. Berat badannya juga terus bertambah. Kesehatan anaknya, bagi Ainun, merupakan berkah dari perjuangan panjang saat menjalani masa-masa persalinan.
”Saya sempat takut dia (Alif, Red) kenapa-kenapa. Alhamdulillah normal,” tutur Ainun saat ditemui di rumahnya, Jalan Wonokusumo Bhakti II Nomor 3, Selasa (7/7). Dia didampingi ayahnya, Rusdi. Suami Ainun kebetulan sedang berada di luar kota.
”Cucu saya belum punya akta. Tapi, saya tahu lahirnya 7 Juni,” kata Rusdi, lalu tersenyum. Pria berusia 60 tahun itu mengaku sempat sedih melihat nasib anaknya. Dia menangis saat cucunya lahir ke dunia.
Alif memang lahir normal. Namun, proses kelahirannya dianggap tak normal. Tidak dibantu bidan, perawat, atau dokter. Rusdi dan keluarganya terpaksa meminta bantuan dukun beranak untuk proses kelahiran Alif. ”Bukan faktor kepercayaan. Ini karena memang kepepet,” tegas Rusdi.
Ceritanya, pada 7 Juni magrib, Ainun merasa perutnya sakit. Perempuan berusia 25 tahun itu lantas meminta tolong keluarganya. Mereka panic.
Pada pembukaan ketiga, Rusdi dan keluarganya sepakat membawa Ainun ke bidan di kompleks perumahannya. Namun, bidan ternyata tak membuka pelayanan. Mereka diarahkan ke rumah sakit.
Dengan naik becak, Ainun lantas diantar ke sebuah rumah sakit di Jalan KH Mas Mansyur. Namun, kondisi di sana juga tak sesuai harapan. Salah satu satpam yang mewakili manajemen menolak secara halus. Alasannya, kamar di RS sudah penuh oleh pasien Covid-19. Mereka juga menyatakan bahwa rumah sakit untuk sementara tidak melayani persalinan.
Pernyataan itu membuat keluarga Rusdi marah. Mereka kebingungan. Sementara itu, Ainun sudah mengerang kesakitan dan memerlukan pertolongan. ”Saya sempat memarahi satpam. Sebab, kami juga tidak memakai BPJS dan membayar tunai,” kata Rusdi.
Ainun semakin kesakitan. Dengan kondisi kepepet, ibu dua anak itu lantas dibawa ke salah satu dukun beranak di kawasan Wonokusumo. Di sana, dia sempat antre menunggu giliran masuk kamar. ”Saat itu, ada enam yang mau melahirkan. Sudah seperti puskesmas saja,” tambah Rusdi, lantas tertawa.
Setelah menunggu dua jam, Ainun lantas ditangani. Ayah dan kakak iparnya setia mendampingi. Ainun berusaha keras. Meski, batinnya juga waswas.
Berbeda dengan layanan di puskesmas, persalinan di dukun beranak dilakukan ala kadarnya. Tak ada tabung oksigen. Tak pakai masker dan sarung tangan. Persalinan dilakukan dengan tangan kosong.
”Saya syok. Seluruh badan seperti lemas,” ungkap Ainun. Dia menangis. Namun, sesekali juga muncul keinginan untuk tertawa karena lucu. ”Setiap mengejan saya dikasih air minum. Katanya penguat,” jelas Ainun.
Yang membuatnya takut lagi, tidak ada jahitan untuk lukanya pasca melahirkan. Kata dukun, luka akan sembuh dengan sendirinya. Meskipun, waktunya tak bisa diprediksi. ”Tentunya, saya sempat takut ada pendarahan. Alhamdulillah, itu tidak terjadi,” kata Ainun.
Proses persalinan di dukun tentu saja tak pernah dibayangkan perempuan tersebut. Apalagi, selama ini bungsu di antara tujuh bersaudara itu rutin cek kehamilan ke puskesmas. Bukan ke dukun.
Namun, Ainun mengaku bersyukur. Yang terpenting baginya, buah hatinya sehat. Dia senang karena anaknya berkembang pesat.
Selain Ainun, proses persalinan di dukun beranak juga dialami Andini, warga Jalan Wonokusmo Bhakti II lainnya. Perempuan itu punya pengalaman tak kalah seru. Dokter memvonisnya kena Covid-19. Namun, ternyata diagnosis itu salah.
M. Fazi, paman Andini, bercerita bahwa keponakannya melahirkan pada 10 Juni. Dia mulai merasa kesakitan sekitar pukul 22.00. Seluruh keluarga sepakat membawanya ke dokter.
Proses persalinan telah berlangsung. Dokter mulai menangani Andini. Namun, secara mendadak penanganan dihentikan saat memasuki masa pembukaan lima. ”Kata dokter, adik saya positif Covid-19. Itu melihatnya dari mana, saya juga bingung,” kata Fazi saat ditemui di rumahnya.
Keluarga Andini panik. Mereka tak punya pilihan. Tepat tengah malam, Andini dibawa ke salah satu dukun di Kecamatan Semampir.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=spV_Eut9srw
https://www.youtube.com/watch?v=stALfR9D_RA
https://www.youtube.com/watch?v=IuNQisNiKjs

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
