Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Agustus 2023 | 20.00 WIB

Kalau Berdoa Malam, Saya Sering Nangis karena Ingin seperti Om Ricky Kayame

MENGASAH TALENTA: Sejumlah pemain mengikuti pemanasan sebelum berlatih di Mimika Sport Center, Kabupaten Mimika, Papua Tengah (9/8).

Ragam Perjuangan Anak-Anak Papua Menuju Papua Football Academy

Yulius harus mengarungi perjalanan yang nyaris sama panjangnya dengan penerbangan Jakarta–Rio de Janeiro untuk bisa ikut seleksi. Dari kawasan puncak tertinggi Indonesia, Apau dan Boy harus berjalan kaki 12 jam ke tempat mereka digembleng.

RIZKA PERDANA PUTRA, Mimika

---

KETIKA akhirnya kapal yang ditumpangi bersama sang paman sampai di Jayapura, Yulius Stenly Watiktaka telah menempuh perjalanan 760 kilometer. Dari Nabire, ibu kota Papua Tengah, dia menghabiskan total 29 jam di darat dan laut, nyaris sama dengan total penerbangan dari Jakarta ke Rio de Janeiro, Brasil.

Semua demi mimpi anak-anak Papua pada umumnya: menjadi pesepak bola. Mengikuti seleksi pada 2022 lalu di ibu kota Papua adalah cara yang dipilihnya untuk mewujudkan impian tersebut.

Dari Nabire, Papua hanya bisa dijangkau lewat udara dan laut. Yulius dan keluarga memilih yang kedua. ”Saya ditemani om menempuh perjalanan selama dua jam naik mobil dari rumah menuju pelabuhan. Kapal berlayar sekitar pukul 6 malam dan kami tiba di Jayapura keesokan harinya pukul 11 malam,” kata Yulius.

Perjuangan itu membuahkan hasil. Yulius terpilih dalam 30 anak yang lolos Papua Football Academy (PFA) angkatan pertama yang semuanya kelahiran 2009. Dia pun berharap bisa mengikuti jejak sang paman, mantan penggawa Persipura Jayapura dan Persebaya Surabaya Ricky Kayame.

”Kalau berdoa malam sendirian, saya sering menangis kepada Tuhan karena ingin seperti Om Ricky,” ujar Yulius.

Ricky pun sudah berpesan kepada sang keponakan bahwa dia harus bisa melampaui dirinya. ”Salah satu caranya dengan bergabung bersama Papua Football Academy,” lanjut Yulius.

IMPIAN JADI PESEPAK BOLA: Dari kiri, analis video PFA Phasky Sukowati bersama Apau Jangkup dan Boy Jangkup.

Dua saudara sepupu, Apau Jangkup dan Boy Jangkup, juga harus melalui perjalanan darat selama lebih dari 12 jam. Bukan dengan mobil, motor, atau moda transportasi umum, tapi jalan kaki.

Dua anak asli suku Amungme itu naik turun bukit dari Desa Aroanop yang terletak di Pegunungan Nemangkawi menuju Tembagapura. Meski dua wilayah tersebut sama-sama berada di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, belum ada akses transportasi dari kawasan yang lebih dikenal sebagai Puncak Jaya, puncak tertinggi di Indonesia, itu.

”Dari Tembagapura, mereka baru ke Timika (ibu kota Mimika, Red) naik bus,” kata pelatih kepala PFA Ardiles Rumbiak kepada Jawa Pos yang menemuinya di kompleks PFA pada 8 Juli lalu.

Di Timika-lah PFA bermarkas, tepatnya di Mimika Sport Complex. Apau menyebut agar bisa sampai tempat di mana impiannya dilabuhkan tersebut, dirinya mulai jalan kaki sekitar pukul 18.00 waktu setempat dan baru sampai Tembagapura pukul 08.00 keesokan harinya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore