Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Februari 2020 | 02.48 WIB

Perawat Kelamaan Pakai Baju ’’Astronot’’, Pasien Pipis di Celana

BERI PERAWATAN: Dari kiri, Kepala Perawat Instalasi Mawar Merah Putih Sri Yuliati, dr Fitri Sriyani SpP, Eni Herlina, dan dr Wasis Nupikso SpOG. Mereka selama ini merawat M, pasien suspect korona. (Dimas Maulana/Jawa Pos) - Image

BERI PERAWATAN: Dari kiri, Kepala Perawat Instalasi Mawar Merah Putih Sri Yuliati, dr Fitri Sriyani SpP, Eni Herlina, dan dr Wasis Nupikso SpOG. Mereka selama ini merawat M, pasien suspect korona. (Dimas Maulana/Jawa Pos)

Sudah enam hari M, tenaga kerja (TKI) yang baru pulang dari Hongkong, dirawat di RSUD Sidoarjo. Ada tim khusus yang menangani perempuan 21 tahun tersebut. Inilah cerita-cerita mereka dari ruang isolasi.

MAYA APRILIANI, Sidoarjo

Jauh sebelum M tiba di RSUD Sidoarjo, dr Fitri Sriyani SpP sudah memikirkan virus korona. Pemberitaan yang santer di berbagai media membuatnya mempersiapkan diri sejak dini.

Bahkan, saat ada acara pertemuan di Banyuwangi pada Sabtu (25/1), perempuan 49 tahun tersebut ingin menyampaikan kepada jajaran direksi RSUD bahwa diperlukan persiapan dalam menangani virus korona. Namun, keinginannya tidak terwujud sampai kembali ke Sidoarjo pada Minggu (27/1).

Fitri ingin menyampaikan tindakan yang harus dilakukan ketika ada pasien virus korona di rumah sakit. ’’Belum sempat menyampaikan, eh kedatangan pasien betulan,’’ ucap ibu dua anak tersebut, lantas tersenyum. Kala itu Fitri diberi tahu bahwa ada pasien yang datang bersama Tim Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) Pasien tersebut baru datang dari Hongkong. Kondisinya demam dan batuk.

Pihak rumah sakit pun tanggap. Pasien itu langsung dimasukkan ke ruang isolasi instalasi gawat darurat (IGD). Lalu dipindah ke ruang isolasi gedung Mawar Merah Putih (MMP) hingga kini. Fitri mendapat mandat sebagai dokter penanggung jawab M.

Awalnya, Fitri juga khawatir. Apalagi, mendengar ’’keganasan’’ virus korona yang menyerang ribuan orang membuatnya deg-degan. Terlebih sampai menimbulkan banyak korban jiwa. Namun, kekhawatiran itu segera hilang saat mengetahui hasil foto dada M baik-baik saja. Tidak ada gejala pneumonia. Infeksi dan peradangan pun tidak ada. ’’Sudah lega. Belum 100 persen. Masih 70 persen,’’ ucapnya. Sebab, hasil sampel swab penentuan adanya virus atau tidak belum ada.

Meski demikian, Fitri tetap waspada. Setiap kali memeriksa M di ruang isolasi, dokter kelahiran Kediri itu selalu memakai alat pelindung diri (APD). APD tersebut terdiri atas baju yang menyatu dengan celana. Lengkap dengan ritsleting di bagian depan. Baju itu tahan air. Ada juga penutup kepala. Juga, kacamata, masker N95, dan penutup wajah transparan dari plastik. Selain itu, ada sarung tangan sepanjang siku serta pelindung sepatu yang juga tahan air. Jika dilihat, baju yang dikenakan mirip pakaian astronot.

APD itu hanya sekali pakai. Meski kondisi M terus membaik, alat tersebut tetap dipakai tiap masuk ruang isolasi. ’’Sumuk (panas),’’ kata Fitri saat memakai APD. Pemakaiannya pun butuh waktu yang cukup lama.

M ditangani dengan optimal. Dia pun tidak canggung berdekatan dan bersentuhan dengan TKI asal Sukadana, Lombok Tengah, tersebut. Dia sudah terbiasa menghadapi pasien dengan kondisi buruk.

Bahkan, saat masih mengikuti peserta program pendidikan dokter spesialis (PPDS), Fitri pernah menangani pasien avian influenza. Ketika masuk dan keluar ruang isolasi, dia wajib membersihkan diri. Mandi dan keramas sebelum serta sesudah melakukan pemeriksaan.

Pengalaman itulah yang membuat Fitri tetap tenang menangani M. Selain itu, dia memiliki niat mulia. Menolong M sembuh dari sakitnya. Mengembalikan kondisinya yang drop menjadi sehat seperti semula. Tidak jarang, saat melakukan pemeriksaan, Fitri juga berbincang dengan pasien muda tersebut. ’’Harapannya, hasil negatif (virus korona). Bisa segera pulang dan bertemu keluarga,’’ ucap alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu.

Harapan serupa diutarakan Eni Herlina, salah satu perawat yang merawat M. Eni tiap hari berjumpa dengan M di ruang isolasi. Dalam sehari, dia minimal tiga kali masuk ke ruangan tersebut. Perempuan 38 tahun itu pun paham yang diidamkan M. Bisa pulang ke kampung halaman. Bersua dengan keluarga tercinta.

Hal itu terlihat jelas saat hari ketiga menjalani perawatan. Ketika M melakukan video call dengan ibunya. Rasa rindu membuatnya menitikkan air mata. Sedih dan kangen campur jadi satu. ’’Sejak saat itu kondisinya lebih baik. Tenang,’’ ucap Eni.

Sama dengan Fitri, Eni juga kepikiran saat bertugas di ruang isolasi. Merawat M setiap hari. Namun, Eni yakin bahwa dirinya tidak apa-apa. Selain kondisi M yang semakin prima, dia sudah melindungi diri dengan maksimal. Peraturan menangani pasien di ruang isolasi telah dikuasai. APD yang dikenakan membuatnya semakin aman.

Jadi, Eni tidak masalah saat menyuapi dan mengantar M ke kamar mandi untuk buang air kecil (BAK). Apalagi, dia tidak hanya sekali masuk ruang isolasi. Eni juga paham hal-hal yang bisa menularkan virus dan tidak.

Meski demikian, dia selalu membawa baju ganti di tas tiap bertugas. Sebelum pulang, dia mandi lebih dulu. Memasukkan pakaian kerjanya ke tas kresek, mengikatnya dengan rapat, lalu berganti dengan pakaian sehari-hari. Sesampai di rumah, baju langsung dicuci.

Kebiasaan tersebut sempat mendapat protes dari buah hatinya. Anaknya mengira Eni baru selesai jalan-jalan saat berganti pakaian ketika sampai di rumah. Sebab, ketika itu dia tidak memakai seragam. Padahal, tindakan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Misalnya, ada virus yang menempel di baju agar tidak menular ke orang lain. ’’Saya hanya mengatakan ganti baju biar cepat bisa antar mengaji,’’ ucapnya, lantas tertawa.

Eni memiliki pengalaman yang tidak terlupakan saat menjaga M. Kala itu M ingin buang air kecil. Eni pun memintanya bersabar. Sebab, dia harus memakai APD lebih dulu. Butuh waktu 2–3 menit. Tampaknya, M sudah tidak tahan menunggu. Sebelum Eni tiba di ruang isolasi, dia pipis di celana. ’’Mungkin tidak berani bilang. Ditahan-tahan,’’ ucapnya.

Kedatangan M ke RSUD Sidoarjo pada Senin (27/1) menghebohkan. Terlebih beredar kabar bahwa dia terduga virus korona. Demamnya mencapai 38,8 derajat Celsius. Di IGD, M langsung masuk ruang isolasi. Keadaan IGD yang penuh sesak kala itu tidak menjadikannya pusat perhatian.

Para pasien dan keluarganya baru sadar M pasien tidak biasa saat dibawa ke ruang foto dada. Kala itu dr Wasis Nupikso SpOG sebagai ketua tim pengendalian dan pencegahan infeksi memutar otak cara mengevakuasi M dari ruang isolasi agar lancar dan tidak menimbulkan kegaduhan. Sebab, sudah banyak kasak-kusuk yang menyebut ada pasien terkena korona di RSUD.

Petugas kemudian membuat jalan ’’khusus’’ di IGD. Banyak mata yang terkesiap saat M lewat. Sebab, dokter dan perawat yang mengikutinya memakai APD. Pakaian mirip astronot itu pun banyak dikenali warga. Mereka melihat di berita tentang virus korona. ’’Setelah melihat itu, banyak pasien dan keluarga yang minta masker,’’ kata Wasis.

Namun, pihak rumah sakit tetap memenangkan para pasien dan keluarganya. Mereka diberi pemahaman bahwa pasien belum dinyatakan positif mengidap virus korona. Tidak seperti kabar yang beredar. Bahkan, pihak rumah sakit pun belum bisa memastikannya. Masih menunggu hasil swab. ’’Semoga negatif dan cepat pulang,’’ tambahnya

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore