Frida Tesalonik (kanan), Guru IPA, saat mengajar metode Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di depan siswa kelas 7 SMPN 7 Tangerang Selatan Banten, Rabu (6/3/2019)
Di kelas yang berbasis Gerakan Sekolah Menyenangkan, guru dibiasakan mengenali kondisi batin siswa sebelum mengajar. Tumbuhnya tanggung jawab dan empati di kalangan murid adalah sebagian hasil yang didapat Frida Tesalonik, guru SMPN 7 Tangerang Selatan yang menerapkannya sejak 2017.
M. HILMI SETIAWAN, Tangerang Selatan
---
GAMBAR sel terpampang jelas. Dari proyektor yang menampilkan slide ke tembok kelas.
"Ayo diamati apa yang ada di sel tumbuhan, tetapi tidak ada di sel hewan. Atau sebaliknya," kata Frida Tesalonik kepada para muridnya.
Para siswa kelas VII-4 SMPN 7 Tangerang Selatan, Banten, itu berkonsentrasi penuh. Menatap gambar yang dimaksud sang guru. "Lima menit, ya," tambah Frida seraya berkeliling kelas.
Pagi itu, Rabu pekan lalu (6/3), 38 pelajar tersebut belajar tentang perbedaan sel tumbuhan dan hewan. Mereka selonjoran di karpet atau duduk di kursi tanpa meja. Santai, tapi tetap serius.
Frida, guru ilmu pengetahuan alam (IPA), memang sejak November 2017 menerapkan pembelajaran ala Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Sebuah gerakan yang bermula di sejumlah kota di Jogjakarta dan Jawa Tengah pada 2016. Lantas mulai diperkenalkan di Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang pada September 2017.
Lima menit yang diberikan oleh Frida pun berlalu. "Ayo, ada yang tahu apa perbedaan dua sel itu?" tanya ibu tiga anak dan nenek dua cucu itu kepada para murid.
Novi Tri Juliani, murid yang duduk di kursi, mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Yang tidak ada di sel tumbuhan itu sentriol," tutur dia. "Yang tidak ada pada sel hewan adalah vakuola dan plasmodesmata."
Frida pun mengacungkan jempol ke Novi. Pertanda siswa 13 tahun itu menjawab dengan benar.
Seluruh siswa lain kompak ikut njempol ke arah Novi. Sambil bersama-sama mengucapkan, "Wow, kamu pintar sekali."
Itulah "cara mainnya". Setiap kali ada siswa yang bisa menjawab pertanyaan guru dengan benar, seluruh siswa lain harus turut mengapresiasi. Bukan hanya ungkapan "wow, kamu pintar sekali". Tapi juga "wow, kamu keren banget".
Ilmu Frida tentang GSM diperoleh lewat pelatihan yang berlangsung seminggu dua tahun lalu. Pelatihan yang langsung menjungkirbalikkan semua yang dia tahu tentang proses mengajar.
"Saya ini dulu dikenal sebagai guru killer," tutur perempuan yang sempat tiga kali ikut seleksi polwan itu kepada Jawa Pos seusai kelas.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
