Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Februari 2019 | 21.52 WIB

Warga Cireundeu Bertahan tanpa Mengonsumsi Nasi dari Beras

Warga sedang mengolah singkong menjadi berbagai jenis makanan di Balai Adat. - Image

Warga sedang mengolah singkong menjadi berbagai jenis makanan di Balai Adat.

Beras singkong tetap jadi pilihan warga Kampung Cireundeu meski tak ada aturan adat yang mewajibkan. Mengenyangkan dan menyehatkan.


ANISATUL UMAH, Cimahi


---


DARI ujung centong, Jawa Pos mencuil rasi yang disodorkan Sopiah itu. Lalu mencoba mengunyahnya. "Enak?" tanya Sopiah di Balai Adat Kampung Cireundeu, Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (17/1) siang hampir sebulan lalu itu.


Sejujurnya hambar. Tenggorokan agak seret. Tapi, Jawa Pos mengambil lagi secuil dari centong. Sembari mencoba menghayati betapa dengan rasi itu warga Kampung Cireundeu telah berhasil mempertahankan kemandirian pangan selama hampir satu abad. Tak pernah jatuh ke dalam jebakan "politik beras" yang dipropaganda sejak rezim Orde Baru.


Rasi kependekan dari beras singkong. Sesuai namanya, bahannya murni dari singkong. Tanpa campuran apa pun. Tak seperti tiwul yang juga berbahan dasar singkong.


Setelah dimasak, bentuknya bulat-bulat kecil. Warnanya putih kecokelatan. Sejak 1924 nasi singkong itulah yang menjadi bahan makanan pokok di Kampung Adat Cireundeu. Sampai kini, 95 tahun berselang, saat warga kampung menyisakan 70 kepala keluarga saja. "Makan rasi itu sudah menjadi tradisi di sini," kata Ketua Adat Cireundeu Emen Sunarya alias Abah Emen.


Tak seperti suku Baduy, meski sama-sama warga kampung adat, penduduk Cireundeu tak menolak teknologi dan sekolah. Warga kampung adat penghayat Sunda Wiwitan itu sepenuhnya menerima perkembangan zaman.


Prinsip mereka, Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman. Maksud Ngindung ka Waktu, sebagai warga kampung adat memiliki ciri dan keyakinan masing-masing atau menjaga adat. Sedangkan Mibapa ka Jaman bermakna mengikuti perkembangan zaman.


Tentu saja modernisasi itu sedikit banyak membawa pengaruh di sana-sini. Apalagi, pendatang juga berdatangan. Kawin-mawin dengan warga luar Cireundeu terjadi.


Tapi, kebiasaan mengonsumsi nasi singkong tetap lestari. Sopiah contohnya. Perempuan 25 tahun tersebut bersuami lelaki dari luar Cireundeu. Meski suaminya mengonsumsi beras nasi seperti mayoritas warga Indonesia, Sopiah bertahan dengan rasi. Setiap hari dia memasak dua jenis makanan pokok: rasi untuknya dan beras untuk suami serta kedua anaknya.


"Anak mah bebas mau ikut siapa," ungkapnya dengan logat Sunda kental.


Saat keluar kota atau pergi kondangan, Sopiah juga selalu membawa bekal beras singkong. "Kalau (pergi) lama, bawa bahan yang mentah, masak sendiri," imbuhnya sambil mengocok telur dengan mikser di balai adat tempat ibu-ibu memasak kue siang itu.


Indonesia adalah negeri beras. Dalam periode Januari sampai November 2018, misalnya, pemerintah harus mengimpor beras sebanyak 2,25 juta ton. Jauh melonjak dari periode Januari-Desember setahun sebelumnya yang mencapai 305,2 ribu ton.


Mengutip artikel Zen Rahmat Sugito di National Geographic Indonesia, pada 1954 pangsa beras di Indonesia hanya 53,5 persen. Separonya merupakan para pemakan nonberas. Pada 1987 angka itu melonjak menjadi 81,1 persen. Dalam rentang 45 tahun, dari 1954-1999, pangsa singkong yang semula 22,6 persen menyusut menjadi hanya 8,83 persen.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore