
BERJIWA SOSIAL: Listyo Yuwanto membawa salah satu komik karyanya.
Listyo Yuwanto punya keahlian berbeda dalam menenangkan pengungsi anak. Melalui komik wayang punakawan, dia mampu menghipnotis ratusan anak untuk melupakan kejadian mengerikan yang baru saja mereka lewati.
EDI SUSILO
LISTYO Yuwanto bergegas keluar dari ruang Pusat Konsultasi Layanan Psikologi (PKLP) Universitas Surabaya (Ubaya). Yang dituju adalah ruang asesmen. Tangannya tampak menenteng belasan komik.
Di ruang berisi aneka permainan anak itu, Listyo mengeluarkan satu per satu komik tersebut dari plastik yang membungkus. Model komik itu berbeda-beda. Mulai ukurannya, ketebalannya, warnanya, hingga bentuknya.
Ada yang sudah mirip komik siap jual dengan jahitan rapi. Ada yang masih berbentuk jilid spiral bak makalah.
”Meski berbeda, tampilan ini tak menghilangkan tujuan aslinya. Yakni, mengatasi trauma pada anak yang mengalami musibah,” ungkapnya kepada Jawa Pos, Selasa (1/11).
Ya, dua belas komik yang dibuat Listyo tersebut memang didedikasikan untuk menghilangkan trauma pada anak saat musibah. Idenya muncul pada 2010. Saat itu Gunung Merapi meletus.
Ribuan warga pun lari menuju tenda-tenda pengungsian. Termasuk anak-anak. Mengetahui kondisi itu, Listyo yang sejak SMA terlibat aktif dalam Palang Merah Remaja (PMR) langsung terpanggil untuk datang ke Merapi.
Dia siap memberikan bantuan tenaga dan mengevakuasi para korban. Setelah sampai, Listyo melihat bahwa kondisi tenda pengungsian sudah ’’cukup memadai’’.
Bantuan sudah banyak. Bahan makanan pokok dan pakaian untuk korban terbilang cukup. Pemerintah juga terasa sigap menghadapi bencana.
”Tetapi, ada yang kurang dari beragam bantuan itu. Yakni, perhatian pada anak-anak. Mereka (pemerintah, Red) masih menganggap anak-anak belum mengerti apa yang terjadi. Padahal, efek kekacauan tersebut bisa membuat mereka trauma,” ungkap dosen psikologi Ubaya tersebut.
Listyo mengungkapkan, sejak saat itu dirinya mulai mengupayakan rehabilitasi anak-anak dengan penanganan psikologi. Salah satunya dengan dongeng untuk anak. Itu dilakukan agar perhatian anak-anak tentang bencana bisa hilang.
Waktu itu, Listyo mengajak beberapa mahasiswa untuk membuat dongeng bermedia boneka. Tapi, cerita di panggung tersebut tidak langsung menarik perhatian anak-anak pengungsi. Mereka cuek dan tidak ingin mendengarkan cerita.
Bahkan, beberapa anak langsung ngacir menjauhi panggung dan asyik bermain wayang-wayangan. Melihat gelagat itu, Listyo langsung tanggap. Dia menilai, dongeng Putri Salju yang sedang dibawakan para relawan tersebut tidak dimengerti oleh anak.
Para pengungsi cilik itu sulit membayangkan tokoh dalam dongeng. Sejak itu, Listyo melirik wayang sebagai sarana pengalihan trauma. Dan, yang dipilih adalah para punakawan. Yakni, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Semuanya dituangkan dalam bentuk komik.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
