Psikolog Stefani Virlia (kiri) memandu Cita Tri Kusuma menjajal praktik penyembuhan fobia dengan virtual reality di Fakultas Psikologi Universitas Ciputra, Selasa (25/7).
Seseorang yang takut pada ketinggian tidak harus naik ke lantai 20 untuk bisa sembuh. Psikolog kini mulai melirik terapi systematic desensitization dengan virtual reality (VR). Metode itu memiliki keunggulan meminimalkan kontak langsung dan risiko fisik lainnya.
RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya
BERSELANG beberapa menit selepas memakai kacamata virtual reality, Cita Tri Kusuma gemetaran. Itu karena di dunia maya, dia tengah berdiri di rooftop salah satu restoran. Tingginya 20 lantai.
Cita yang memiliki fobia ketinggian tidak berani mendekati railing dan menengok ke bawah untuk melihat keramaian jalan raya. Rasa cemas dan takut pada ketinggian atau akrofobia memang cukup umum ditemui.
”Selain ketinggian, fobia pada serangga dan fobia keramaian juga cukup banyak,” ucap Stefani Virlia MPsi Psikolog.
Kini, para psikolog memakai teknologi untuk menangani fobia ketinggian atau fobia lainnya. Namanya terapi systematic desensitization. Banyak orang yang berhasil lepas dari ketakutannya setelah menjalani metode tersebut.
”Tapi, kalau dihadapi langsung, psikolog harus bawa serangganya langsung. Harus mengajak mereka ke rooftop langsung. Ini kan punya risiko sendiri,” imbuh Stefani.
Misalnya, risiko panik hingga terluka saat menjalani proses terapi. Hal itu bisa diminimalkan dengan penggunaan VR. Dari hasil penelitian di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, pemakaian VR berdampak positif.
”Nah, makanya kami coba lakukan di sini. Bukan hanya untuk praktik, melainkan juga untuk masuk dalam kurikulum pendidikan kami,” jelas kepala program studi psikologi Universitas Ciputra itu pada Selasa (25/7) lalu.
VR dinilai berhasil membangun realitas yang sangat mirip dengan dunia nyata. Itu juga dapat dilihat dari respons pasien saat menjalani terapi.
”Jadi, tanda-tanda kecemasannya itu muncul beneran. Seperti detak jantung meningka-t dan keringat dingin,” jelasnya.
Praktik penggunaan VR sebenarnya tak jauh dari tahapan terapi systematic desensitization. Yaitu, ada banyak level ’’ketakutan’’ yang ada di dalam VR. Contohnya, arachnophobia atau fobia pada laba-laba.
Pada level pertama, pasien akan diajak melihat laba-laba berukuran sedang dari jauh. Serangga berkaki delapan itu ditempatkan dalam kandang kaca tembus pandang. Perlahan, pasien bisa mendekat apabila merasa nyaman.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
