Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Februari 2017 | 21.15 WIB

Mengenal Kue Tradisional Resep Keraton Pontianak, Enak tapi Semakin Langka

Keluarga Keraton Kadriah Pontianak, Syarif Hamdan Alkadrie saat ditemui di Keraton, Sabtu (18/2). - Image

Keluarga Keraton Kadriah Pontianak, Syarif Hamdan Alkadrie saat ditemui di Keraton, Sabtu (18/2).


"Kalau ndak ade yang buat, ape yang nak dirase khas dari Pontianak nih, mane khasnye? Kan budaya ndak cuman bangunan, tarian, tapi makanannye juga," tegasnya.


Ia berandai-andai, jika saja anak muda sekarang yang didukung kemajuan teknologi dan informasi mampu mengolahnya, pasti jajanan tradisional tersebut akan berkembang hingga menjadi produk modern yang bersaing dan memiliki nilai jual tinggi. Dan, ini yang paling penting, kata Hamdan, kalau anak-anak muda mau turun tangan, jajanan tradisional akan terus ada dan tak punah ditelan jaman. 


Menurut dia, perlu kesadaran masyarakat serta tindakan nyata pemerintah untuk mengenal, melestarikan, hingga mempromosikan jajanan Pontianak agar dikenal luas masyarakat Indonesia hingga mancanegara.


Kepada Rakyat Kalbar, Hamdan mengatakan ada warga yang masih terus memproduksi juadah-juadah langka ini. Tinggalnya dekat Keraton Kadriah, dan biasanya memang membuat kue untuk sajian di acara kesultanan.


Ia bernama Syarifah Latifah Alkadrie. Perempuan berusia 35 tahun ini memang dikenal dengan usaha kue tradisional. Kebanyakan penganan buatannya khas, biasanya dulu disajikan untuk raja-raja di acara kesultanan Keraton Kadriah Pontianak.


Latifah paham betul bagaimana membuat kue-kue yang disebutkan oleh Syarif Hamdan Alkadrie, seperti Batang Burok, Madu Kandis, Putri Salat, Tumpor, Tapai Menaon, Rotikap, Korket Kepal, serta Singkep-Singkep.


Ditemui di kediamannya, Latifah menjelaskan beberapa kue seperti Madu Kandis yang terbuat dari kacang hijau, santan, dan susu. Lalu Batang Burok yang komposisinya terbuat dari daging dan disiram dengan santan, kue ini yang biasanya sering dihidangkan untuk sultan-sultan jaman dahulu.


Sedangkan Singkep-Singkep dilihat sekilas menyerupai kue bolu yang diolesi selai strawberry dan disiram susu. Kalau Putri Salat terbuat dari ketan hitam dan putih.


Dihubungi Rakyat Kalbar, Dony Prayudi, food blogger asal Pontianak menilai makanan tradisional yang tergerus oleh zaman karena bentuknya yang tidak menarik atau rasanya yang monoton. “Tapi saya pikir bukan kesalahan penganan tradisionalnya itu, tapi mungkin pemahaman masyarakat tentang makanan itu yang salah,” ujarnya. Ia menyebut bahwa setiap jenis kuliner dan penganan memiliki sejarah dan kisah pembuatannya sendiri.


Dony mencontohkan, antara ce hun tiaw dengan cendol atau dawet sekilas terlihat sama saja, padahal berbeda. Selain dari asalnya juga dari bahan pembuatnya. 


“Kalau dari bahasa Tio Ciu, Ce itu dari kata Chiu Ce yang berarti ubi, Hun berarti Tepung, dan Tiaw artinya balok memanjang seperti mie. Jadi aslinya Ce Hun Tiaw itu dari tepung ubi, walaupun sekarang mungkin sudah berganti dengan sagu, sementara dawet itu aslinya dibuat dari tepung beras,” paparnya.


Menurutnya, dokumentasi terkait informasi dan sejarah kuliner sesuatu yang tidak kalah penting dilakukan. “Untuk menjaga agar informasi ini tidak hilang,” ungkapnya.


Dony pun melihat bahwa beberapa penganan khas Pontianak sekarang hanya bisa ditemui pada momen tertentu. “Seperti jorong-jorong, kalau bukan di bulan puasa, kita sulit menemukannya,” tukasnya. 


Setidaknya, lanjut dia, ada 70 jenis jajanan di Pontianak yang pernah ia data bersama komunitas penikmat makanan. Mulai dari yang sangat tradisional seperti Lempeng Anyak hingga yang populer macam Pisang Goreng Pontianak.


Dony menilai, keragaman kuliner di Pontianak sebenarnya potensi wisata yang layak untuk dikembangkan. “Ingat, objek wisata Pontianak ini sedikit. Tapi kita kaya akan kuliner, dan ini bisa jadi tumpuan wisata masa depan kota khatulistiwa ini,” ungkap pemilik akun instagram @dodon_jerry itu.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore