
DEMI CERITA: Para mahasiswa desain komunikasi visual UK Petra Surabaya yang sedang mengumpulkan cerita rakyat Surabaya.
Surabaya menyimpan sejuta kenangan dan cerita yang belum banyak diketahui masyarakat. Karena itu, mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual UK Petra berupaya mengumpulkannya. Rupanya, hal tersebut tak mudah dilakukan. Banyak liku-liku yang harus mereka lalui.
ANTIN IRSANTI, Surabaya
PADA sebuah zaman, hiduplah seorang pemuda dari Desa Wiyung. Namanya Sawunggaling. Dia adalah anak Adipati Jayengrana yang memimpin Kadipaten Surabaya saat itu. Bukan dari permaisuri, melainkan dari seorang selir bernama Dewi Sangkrah.
Saat ancaman Belanda datang menyerbu Surabaya, Sawunggaling memimpin laskar-laskar rakyat untuk memerangi kompeni di bawah kepemimpinan Jenderal De Boor. Dengan gagah berani, Sawunggaling dan pasukannya melawan Belanda yang datang membakar rumah-rumah penduduk dan menduduki Surabaya.
Pertempuran hebat pun tak terelakkan. Banyak rakyat yang gugur dalam peperangan tersebut. Sementara itu, pasukan Belanda dengan senjatanya yang lebih canggih semakin mengimpit gerak Laskar Surabaya. Posisi Sawunggaling terpojok. Namun, dia tetap melakukan perlawanan habis-habisan. Sawunggaling pun gugur di medan pertempuran dan dikenang sebagai pahlawan rakyat Surabaya.
Kisah heroik Sawunggaling tersebut menjadi santapan manis sore hari yang disajikan Mbah Ahmad. Pria 92 tahun itu menceritakan dongeng rakyat turun-temurun dari Wiyung tersebut kepada para mahasiswa UK Petra. Tidak hanya itu. Dia juga menyanyikan lagu-lagu Belanda yang diingatnya.
Mbah Ahmad memang sudah lanjut usia. Namun, ingatan terhadap kisah Sawunggaling masih kental dalam memorinya. Dia juga masih bisa menceritakan kisahnya dengan jelas. ”Tapi, Mbah tidak tahu pasti Sawunggaling dimakamkan di mana. Katanya, ada yang bilang di Tuban,” terang sesepuh di Wiyung itu.
Kisah Sawunggaling versi Wiyung merupakan tugas kuliah bagi mahasiswa semester I Desain Komunikasi Visual UK Petra. Tepatnya bagi kelompok 13 dari kelas B. Tugas itu harus diselesaikan dalam waktu dua pekan.
Selama ini, banyak versi terkait cerita Sawunggaling. Para mahasiswa diminta mencari langsung dari sumber asalnya. Ardityo Yosua dan empat rekan satu timnya yang kebagian kisah itu berangkat ke Kecamatan Wiyung untuk mencari narasumber.
Datang pukul 11.00, mereka masih bingung menentukan arah. Akhirnya, mereka berhenti di sebuah kedai susu. Satu jam kemudian, mereka memutuskan untuk memasuki kampung di dekat kedai susu. Tanya dari satu rumah ke rumah lainnya, hasilnya nihil. Tak ada satu pun orang yang tahu kisah Sawunggaling. ”Kami malah dicurigai,” ujar Yosua.
Adanya lima mahasiswa yang masuk kampung dan bertanya itu rupanya terlihat menyeramkan bagi warga. Mereka pun mengambil sikap antipati. Bahkan, ada yang langsung masuk rumah. Dua jam menyusuri kampung, lima mahasiswa tersebut kelelahan.
Hingga akhirnya tiba di sebuah warung kelontong. Mereka bertanya kepada bapak penjaga warung. Dari bapak itulah mereka mendapat petunjuk untuk menemui Mbah Ahmad. ”Rumahnya tidak jauh kok, ada di ujung gang,” kata penjaga warung itu.
Tak banyak pertimbangan, mereka bergegas menuju rumah Mbah Ahmad setelah berpamitan kepada bapak pemilik warung. Beruntung, orang yang dicari sedang berada di rumah. Mbah Ahmad menyambut mereka seperti kawan lama. Tak ada rasa canggung. Sudah akrab saja. Hingga cerita tentang Sawunggaling dan perjalanan hidup Mbah Ahmad mengalir dalam durasi dua jam.
Mendekati magrib, para mahasiswa berpamitan. Kisah Mbah Ahmad telah cukup memenuhi tugas kuliah mereka.
Lain lagi cerita yang dialami kelompok 7. Mereka mendapat tugas mencari kisah Joko Dolog. Tujuan mereka sudah jelas, datang ke Patung Joko Dolog yang ada di belakang Taman Apsari.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
