
AKRAB: Tajul (tiga dari kanan) bersama teman-teman barunya.
Muhammad Tajul Mafachir sedang menikmati masa-masanya menjadi sufi di Sudan, Afrika Utara. Lelaki 25 tahun asal Nganjuk Jawa Timur tersebut meninggalkan Indonesia untuk menjalankan perjalanannya menjadi sufi
---
’’Saya perkirakan akan selesai pada sebelum Agustus. Sebab saya berencana haji tahun ini. Sambil jalan, saya juga menyusun beberapa draft mengenai perkembangan sufi dan tarekat di Sudan,’’ ulas Tajul.
Semua yang dilakoninya sekarang bermula setelah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Sudan, tepatnya pada jurusan Islamic Studies di Omdurman Islamic University. Setelah lulus, Tajul merasa selama ini mahasiswa Indonesia yang lulus dari Sudan kurang ngerti tentang Sudan.
’’Pas pulang ditanya Sudan itu apa? Mereka pada geleng-geleng nggak ngerti. Padahal Sudan itu negerinya para sufi. Mayoritas dari mereka adalah penganut tarekat sufi tertentu. Selain itu, saya juga suka 'nggelandang' dan tantangan,’’ paparnya menjelaskan alasan perjalanannya.
Awalnya, Tajul membuat rute dalam perjalanannya. Ternyata perjalanan tidak bisa mengikuti rute yang sudah dibikinnya. Akhirnya, perjalanan itu dibikin mengalir. Spontan. Bila ada keluarga syaikh yang mengajak Tajul ke suatu tempat, diiyakan olehnya.
Kadang juga, ada traveler yang singgah dan men-hire Tajul menjadi guide menuju Ehiopia, sekeliling Sudan, dan Mesir, juga disambutnya. Delapan bulan menjalani kehidupan nomaden mempertemukan Tajul dengan banyak pengalaman menarik.
Misalnya saat dia mengunjungi makam Sayid Ali Almirghani yang berada di kota Bahri, Khartoum Utara. Ketika akan ziarah setelah salat maghrib, Tajul terkejut pas disapa penjaga makam bernama Sayid Abdul Kadir Alkhudr, ’’Disapa begini, namamu Muhammad Taj kan? Aku tahu kamu dan dimana saja selama ini,’’ papar Tajul.
Kendati baru kali pertama, penjaga makam itu tahu latar belakang Tajul. Hal seperti itu, dimana orang asing mengenali nama dan kemauannya, dinilai Tajul kerap terjadi saat menjadi sufi. "Mereka adalah orang-orang salih, kekasih Allah. Hidup mereka hanya ibadah, tidak kenal teknologi, yang dilakukan hanya beribadah," ungkapnya.
Delapan bulan berkelana di Sudan, sudah sekitar 40 persen wilayah Sudan yang disinggahinya dari seluruh zawiyah alias pesantren sufi yang ada. ’’Tapi ukurannya menurut saya bukan soal berapa banyak destinasi, karena kebanyakan destinasi hampir sama dan berhubungan keluarga antar satu sama lain,’’ ulasnya. (ina/tia)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
