Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Juli 2017 | 23.39 WIB

Alfi Ariyanto, Staf Dinsos Sekaligus si Penakluk Penderita Gangguan Jiwa

NORMAL BERAKTIVITAS: Alfi Ariyanto (kiri) bersama Suwandi di kantor dinas sosial. - Image

NORMAL BERAKTIVITAS: Alfi Ariyanto (kiri) bersama Suwandi di kantor dinas sosial.


Banyak orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang dijauhi, bahkan ’’dibuang’’. Namun, Alfi Ariyanto memilih mendekatinya. Dia juga berusaha menyembuhkan penderita gangguan jiwa.





CHUSNUL CAHYADI





’’WONG gendeng’’. Kesan yang muncul adalah dekil, ngamukan, dan bau. Orang-orang pun berusaha menghindarinya. Namun, Alfi Ariyanto menabrak stigma itu. staf bidang rehabilitasi sosial pada seksi pelayanan sosial di Dinas Sosial (Dinsos) Gresik itu malah ”memburunya’’.



Sarjana administrasi publik (SAP) di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Bandung 2010 itu dijuluki ’’Penakluk’’ ODGJ. ’’Saya menangani ODGJ sejak 2013,’’ kata bapak satu anak tersebut saat ditemui Selasa (4/7).



Risiko berinteraksi dengan orang tidak waras menjadi makanan setiap hari Alfi. Diamuk atau diludahi, misalnya. Bau tidak sedap sudah pasti. Sebab, mereka biasanya tidak mandi serta tidak gosok gigi sampai berhari-hari. ’’Itu risiko,’’ ucapnya.



Saat memburu dan menaklukkan ODGJ, pria 42 tahun itu tidak sendirian. Dia biasa dibantu koleganya, Bambang dan Munaji. Dua orang itu bertugas merawat hasil tangkapan di rumah singgah atau selter milik dinsos di Jalan Raya Cerme Lor, Kecamatan Cerme. ’’Bila melawan, ada pol PP dan polisi yang membantu saya mengamankan,’’ katanya.



Hampir empat tahun ’’berkawan’’ dengan orang gila, Alfi mengatakan telah memahami psikologis mereka. Karena itu, dia tidak sulit menjinakkan ODGJ tanpa kekerasan. Menurut dia, ODGJ ngamukan sebatas stigma. Sebab, Alfi nyaris tidak pernah menemuinya.



Apa tip menjinakkan orang gila? Dia menyebut membawa makan dan minuman (mamin). Sebab, ODGJ biasanya kurang makan. Ketika perutnya terisi, mereka bakal nurut. ’’Saya cekel manut. Saya pancing makanan dan minuman, lalu saya ajak naik mobil,’’ ucapnya.



Biasanya, Alfi mendapatkan ODGJ dari jalanan dan pasar. Kondisi badannya tidak terawat. ’’Nek kondisinya awut-awutan kita mandikan di selter. Mas Bambang yang menanganinya,’’ ungkapnya.



Setelah tubuhnya bersih, ODGJ diantar ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur, Surabaya. Jika kondisinya sangat parah, perawatannya butuh waktu 4–5 bulan. Kalau ringan, paling banter tiga bulan. ’’Kalau sudah bisa berinteraksi dengan orang, pihak RSJ Menur mengontak saya lagi untuk menjemputnya,’’ paparnya.



Saat itu Alfi mulai mengorek identitas ODGJ. Misalnya, nama dan alamat rumahnya. ’’Setelah sembuh, mereka ingat rumahnya. Kami kemudian memulangkan ke rumahnya,’’ tuturnya.



Kesempatan bertemu kembali dengan keluarga pun sangat mengharukan. Keluarga ODGJ selalu mengucapkan terima kasih. ’’Ada yang mendatangi kantor dan ada yang membawa satu tandan pisang,’’ ujarnya.



Salah satu ODGJ yang diamankan Alfi adalah Suwandi. Sekitar lima bulan lalu dia berkeliaran di Jalan Raya Dr Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Kebomas. Kondisinya awut-awutan. Tanpa baju dan mengenakan sarung kotor. Setelah dirawat di RSJ Menur Surabaya, lelaki asal Kediri itu pun sembuh. ’’Saya ditemukan Mas Alfi ini,’’ kata Suwandi. (*/c15/dio)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore