
ASLI SUROBOYO: Rachmat Aditya Effendy (kanan) bersama Mayor Suyanto, staf pengajar AAL.
Melihat wajah Asia dalam jajaran kadet US Army sudah jadi hal lumrah meskipun jumlahnya masih terbilang sedikit. Apalagi kalau mencari wajah yang njawani. Dalam kunjungan kadet US Army beberapa waktu lalu, Jawa Pos sempat menemukan salah seorang pemuda langka itu. Dia adalah Rachmat Aditya Effendy.
DEBORA DANISA SITANGGANG, Surabaya
BAK menemukan jarum di tumpukan jerami. Siapa sangka, di tengah rombongan kadet muda US Army berparas Kaukasoid, tampak sosok pemuda berkulit cokelat legit. Di name tag-nya tertulis Effendy. Bukan nama yang asing di telinga orang Indonesia.
Ketika masih mengobrol dengan kawan-kawannya, bahasa Inggrisnya terdengar begitu luwes. Tetapi, begitu mengobrol dengan tentara lokal, medoknya itu lho... ternyata masih kental seperti kopi hitam. Belum hilang sama sekali.
Tinggal tujuh tahun di Amerika Serikat tidak membuat gaya bicaranya berubah menjadi ala Cinta Laura. Dengan gaya bersahaja, pemuda 20 tahun itu memperkenalkan diri. Kendati nama depannya Rachmat, dia lebih senang dipanggil dengan nama belakangnya saja. Effendy.
Awalnya, Effendy mengaku asli Nganjuk. Memang benar, dia tinggal di Nganjuk sejak bayi. ”Tapi, saya lahir di Surabaya,” tuturnya kemudian. Tepatnya, dia lahir dan tinggal selama enam bulan pertama kehidupannya di Bronggalan Sawah. Ayah dan ibunya asli Surabaya. Yang tinggal di Nganjuk adalah budenya.
Angka enam tampaknya menjadi angka titik balik Effendy. Setelah pindah ke Nganjuk di usia enam bulan, Effendy kembali berpindah setelah lulus kelas VI SD. Kali ini, pindahnya tak tanggung-tanggung. Ibunya mengajaknya ke luar negeri.
Setelah berpisah dengan suaminya, sang ibu ingin memulai kehidupan yang baru bersama keempat anaknya. Karena Effendy yang bungsu juga sudah menginjak remaja awal, ibunya merasa tidak masalah membawa dia pindah sekalian. Tujuannya satu, ke Negeri Paman Sam.
Effendy mengaku tidak tahu persis alasan ibunya ingin pindah ke Amerika Serikat. ”Waktu itu, karena saya masih kecil, ya saya ikut saja diajak pindah,” ujar Effendy. Yang dia tahu kala itu, Amerika Serikat adalah the land of opportunity. Banyak kesempatan yang bisa didapatkan oleh keluarganya di sana.
Hebatnya, ketika pertama pindah, Effendy tidak merasakan jet lag parah. Dia mengaku tidak begitu kesulitan atau mengalami konflik batin yang parah ketika harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Padahal, lingkungannya yang baru, Hawaii, berbeda 180 derajat dari Nganjuk.
Bagaimana soal kendala bahasa? Ditanya soal itu, Effendy hanya tertawa kecil. ”Sebenarnya, nilai bahasa Inggris saya juga nggak begitu bagus,” ungkapnya. Nilai bahasa Inggris terakhir yang dia ingat di bangku SD adalah 58. Jauh di bawah standar minimal.
Effendy beruntung punya bibi-bibi baik hati. Setelah dirawat bertahun-tahun oleh budenya di Nganjuk, Effendy juga banyak dibantu oleh tantenya di Amerika Serikat. Sang ibu rupanya punya saudara di sana yang membuat dirinya tidak ragu untuk bermigrasi. Sang tantelah yang banyak membantu Effendy dan keluarganya pada awal-awal titik balik mereka.
Awal mimpi Effendy menjadi kadet pun datang dari keluarga tantenya. Tepatnya, dari suami tantenya alias paman Effendy. Pria bernama George Poreta itu adalah seorang tentara US Navy alias angkatan laut Amerika Serikat. Effendy tertarik melihat kehidupan pamannya sebagai tentara. ”Enak, bisa keliling dunia,” ujar pemuda yang berulang tahun pada 20 September itu.
Keinginannya menjadi tentara semakin kuat ketika SMA. Saat itu, Effendy dan kawan-kawannya memasuki fase pusing memikirkan mau lanjut sekolah di mana. Amerika punya segudang sekolah. Biaya yang dibutuhkan juga segudang.
Keluarga Effendy bukan keluarga yang sangat mampu. Ibunya bekerja di gerai makanan cepat saji. Karena itu, Effendy sadar harus mencari beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya.
Padahal, mencari beasiswa pun susah. Selain persaingannya ketat, banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satunya harus berstatus warga negara Amerika Serikat. Menjelang masuk kuliah, Effendy mengurus perubahan kewarganegaraannya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
