Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Agustus 2025 | 13.15 WIB

Maudy Ayunda Ungkap Pelajaran Berharga dari Buku The Let Them Theory Karya Mel Robbins

Ulasan aktris dan musisi Maudy Ayunda tentang buku The Let Them Theory karya Mel Robbins. (YouTube Maudy Ayunda) - Image

Ulasan aktris dan musisi Maudy Ayunda tentang buku The Let Them Theory karya Mel Robbins. (YouTube Maudy Ayunda)

JawaPos.com–Aktris dan musisi Maudy Ayunda membagikan refleksi pribadi usai membaca buku The Let Them Theory karya penulis dan motivator asal Amerika Mel Robbins.

Melalui kanal YouTube miliknya, Maudy mengulas isi buku yang menurut dia relevan dengan keresahan banyak orang yakni overthinking, perbandingan diri, hingga rasa takut pada penilaian orang lain.

“Kadang kita capek sendiri karena terlalu mikirin sikap orang lain, sampai kehilangan kesempatan gara-gara takut sama opini,” ungkap Maudy.

Dia mengaku juga pernah berada dalam fase itu, sehingga merasakan betul manfaat dari gagasan Robbins.

Robbins dalam bukunya menekankan kesederhanaan prinsip let them. Biarkan orang lain bersikap, berkomentar, atau melangkah lebih dulu.

“Ada banyak hal dalam hidup yang sebenarnya tidak perlu kita jelaskan atau pertahankan. Biarkan saja. Let them go, let them dislike you, and let them think what they want,” tulis Robbins.

Bersahabat dengan Perbandingan

Insight pertama yang disorot Maudy adalah soal rasa iri dan perbandingan. Kuatnya pengaruh media sosial membuat banyak orang merasa tertinggal karena terpapar pencapaian orang lain.

Namun menurut Robbins, rasa iri bukanlah sesuatu yang salah. Itu justru sinyal dari keinginan terdalam.

“Seringnya kita menyiksa diri dengan membandingkan timeline kita dengan orang lain. Padahal perjalanan tiap orang berbeda,” kata Maudy, mengutip isi buku.

Prinsip let them mengajak pembaca untuk membiarkan orang lain lebih dulu, sambil bertumbuh sesuai ritme diri sendiri.

Belajar Melepas

Insight kedua adalah tentang pertemanan yang berubah seiring waktu. Robbins menyebut fenomena ini sebagai the great scattering. Saat memasuki fase hidup baru seperti kuliah, pekerjaan, atau keluarga, lingkaran pertemanan pun ikut bergeser.

“Kadang kita sedih merasa ditinggalkan, padahal itu proses alami. Bukan penolakan, tapi perjalanan masing-masing,” jelas Maudy.

Robbins menegaskan tiga hal yang menjaga pertemanan yakni kedekatan fisik, kesamaan fase hidup, dan energi yang selaras. Jika ketiganya berubah, wajar bila hubungan ikut berubah.

Hidup Bukan Ajang Persetujuan

Insight ketiga, yang menurut Maudy paling menohok, adalah soal ketakutan dinilai orang lain. Dalam bukunya, Robbins menyebut, trying to control what others think is a full-time job with no paycheck.

Selama ini banyak orang terjebak dalam keinginan terlihat cukup dan diterima, padahal komentar atau penilaian orang tidak akan pernah berhenti.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore