Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 April 2023, 18.47 WIB

Rayo di Rantau, Lagu Minang Yang Viral Jelang Lebaran 2023

Ten Azizar Chaniago saat menyanyaikan lagu Rayo di Rantau. - Image

Ten Azizar Chaniago saat menyanyaikan lagu Rayo di Rantau.

JawaPos.com - Lagu Minang adalah salah satu kekayaan seni di Tanah Air. Meski berasal dari daerah, lagu Minang memiliki penikmat yang begitu banyak. Lagu-lagu dari Sumatera Barat itu tidak hanya disukai masyarakat Minangkabau, bahkan dari suku lainnya.

Nah, pada menjelang Idul Fitri 1444 H atau Lebaran 2023 terdapat lagu minang yang viral dia media sosial. Tahun ini dapat dikatakan Rayo Dirantau [Rayo di Rantau] sebagai lagu minang yang banyak diputar oleh masyarakat. Menariknya lagu yang viral itu adalah versi cover-nya yang dinyanyikan Ten Azizar Chaniago.

Rayo di Rantau versi cover Ten Azizar Chaniago ini diunggah oleh channel Fortuna Studio Record pada 11 bulan yang lalu. Hingga berita ini dilansir, lagu tersebut sudah tayang 682 ribu kali dan mendapat 688 komentar. Sementara subcriber channel Fortuna Studio Record 12.800.

"Saya tidak menyadari lagu ini akan booming sekarang. Beberapa bulan lalu memang ada komentar dari kawan lagu yang saya nyanyikan banyak diputar orang di YouTube," ujar Ten Azizar Chaniago saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (18/4).

Tidak menyangkanya Ten Azizar dengan lagu cover yang dinyayikan tersebut, karena kala itu dia hanya sekadar menyanyi untuk menyumbangkan suara dalam sebuah acara komunitas Minang di Batam, Kepulauan Riau (Kepri). "Ternyata saat saya nyanyi direkam dan diunggah oleh Fortuna Studio Record," aku pria yang kini berusia 63 tahun itu.

Pria yang sehari-hari bermukim di Batam itu sangat berterima kasih dengan masyarakat yang menyukai lagu Minang. Berkat subscriber lagu cover yang semula dinyanyikan Edi Damara itu semakin dikenal. Adapun Rayo di Rantau diciptakan oleh Alhadi Saputra pada lima tahun lalu.

Menyoal soal Rayo Dirantau, lagu ini bercerita tentang seorang anak rantau yang tidak bisa pulang kampung atau mudik saat hari raya Idul Fitri. Padahal dia sangat rindu dengan orang tuanya.

Semula dia berharap pergi merantau bisa mengubah nasib. Ternyata hidup masih saja susah. Kini, si anak rantau hidup sebatang kara.

Untuk mengobati rindu dengan kampung halaman pada Lebaran, dia hanya bernyanyi dan menyampaikan salam dari jauh dengan orang-orang Minang lainnya yang pulang.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore