Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Juli 2026 | 20.49 WIB

Kasus Gas Oplosan Terjadi Lagi, Pertamina Ingatkan Bahaya Kemasan Portable Diisi LPG 3 Kilogram

Ilustrasi LPG. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang) - Image

Ilustrasi LPG. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)

JawaPos.com - Meski sudah berulang kali ditindak oleh pihak kepolisian, kasus LPG oplosan masih terus terjadi. Gas dari tabung subsidi ukuran 3 kilogram dioplos dengan dan dijual kembali pada gas tabung non subsidi. Pertamina menyayangkan hal itu dan mengingatkan bahwa bisnis ilegal tersebut sangat berbahaya.

Bukan cuma harus berurusan dengan aparat penegak hukum, pelaku bisnis ilegal tersebut mengancam keselamatan jiwa dan nyawa. Sebab, proses pengisian dilakukan di luar prosedur yang semestinya. Tanpa standar keselamatan yang ketat, berbagai risiko bermunculan.

Mulai kemungkinan terjadinya kebocoran, kebakaran, sampai ledakan. Atas terulangnya kasus tersebut, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat buka suara. Apalagi modus yang ditemukan oleh Polres Pelabuhan Tanjung Priok berbeda dari kebanyakan kasus.

Jika biasanya pelaku mengoplos gas dari tabung LPG subsidi 3 kilogram ke tabung ukuran 12 kilogram, kali ini gas subsidi tersebut dioplos ke dalam kemasan gas portable Bright Gas Can. Menurut Pertamina, itu sangat berbahaya karena kedua gas tersebut beda karakteristik.

”Peredaran gas hasil oplosan juga dapat menempatkan masyarakat sebagai pihak yang paling berisiko apabila produk tersebut digunakan tanpa mengetahui proses pengisiannya,” tulis Pertamina dalam keterangan resmi yang dikutip pada Sabtu (25/7).

Dalam penjelasannya, Pertamina mengungkapkan bahwa Bright Gas Can dirancang menggunakan komposisi gas yang didominasi butana dengan tekanan lebih rendah. Sementara LPG 3 kilogram berisi campuran propana dan butana yang memiliki tekanan lebih tinggi.

Perbedaan itu membuat kedua gas tersebut tidak dapat dipertukarkan melalui proses pengisian ulang secara sembarangan. Tabung, katup, dan sistem pengaman masing-masing produk sudah dirancang sesuai karakteristik gas. Sehingga praktik pemindahan gas LPG 3 kilogram ke tabung gas portable sangat berbahaya.

Apalagi jika proses tersebut dilakukan menggunakan alat rakitan atau peralatan yang tidak memenuhi standar. Overfilling atau kondisi dimana isi gas melebihi kapasitas aman tabung, dapat terjadi. Akibatnya, tekanan di dalam tabung meningkat dan dapat merusak katup pengaman.

Pertamina menekankan bahwa proses pengisian LPG hanya boleh dilakukan pada fasilitas resmi dengan peralatan yang telah dikalibrasi untuk memastikan tekanan, berat isi, dan kondisi tabung memenuhi standar keselamatan. Kasus yang diungkap Polres Pelabuhan Tanjung Priok menjadi peringatan.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore