
Petugas PLN melakukan recovery untuk mempercepat pemulihan kelistrikan di Tower SUTT 275 kV Muara Bungo - Sungai Rumbai di Kabupaten Bungo, Jambi pada Jumat (22/5). (Dok. PLN)
JawaPos.com - Pengamat Energi Sofyano Zakaria menilai pengembangan backbone kelistrikan Sumaetra menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan sistem listrik nasional, terutama melalui penguatan jaringan transmisi 500 kV, 275 kV, hingga pengembangan jaringan 150 kV yang telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
“Penguatan backbone Sumatera akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem kelistrikan yang lebih terintegrasi dari Aceh hingga Lampung. Selain itu, pengembangan pembangkit fast response, modernisasi sistem proteksi, serta pemeliharaan berbasis digital dan prediktif juga menjadi langkah penting untuk memperkuat stabilitas sistem,” kata dia di Jakarta, dikutip Rabu (27/5).
Sofyano mengatakan, fenomena blackout di Sumatera perlu dilihat secara proporsional karena gangguan sistem kelistrikan berskala besar juga pernah terjadi di sejumlah negara maju.
“Sistem kelistrikan negara maju juga pernah mengalami blackout. Jadi gangguan berskala besar seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia,” ujar Sofyano Zakaria.
Ia mencontohkan blackout besar di Australia Selatan pada 2016 yang dipicu cuaca ekstrem hingga menyebabkan gangguan beruntun pada jaringan transmisi.
Inggris juga pernah mengalami gangguan sistem kelistrikan pada 2019 yang memicu pemadaman luas dan mengganggu transportasi publik. Bahkan belum lama ini, Spanyol dan Portugal juga mengalami gangguan kelistrikan berskala besar yang memerlukan proses penormalan sistem secara bertahap.
Menurut Sofyano yang juga merupakan Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI) itu, dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatra, gangguan pada jaringan transmisi akibat cuaca ekstrem memang dapat berdampak luas terhadap kestabilan pasokan listrik sehingga proses pengamanan dan penormalan sistem perlu dilakukan secara hati-hati dan terkoordinasi.
“Yang terpenting adalah bagaimana proses penanganan dan penormalan sistem dilakukan secara terkoordinasi agar sistem kembali stabil,” katanya.
Ia menilai, dalam sistem interkoneksi besar, proses pengembalian sistem tidak dapat dilakukan secara instan karena operator harus memastikan frekuensi, tegangan, dan pasokan listrik berada pada kondisi aman sebelum seluruh jaringan dinormalkan sepenuhnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Prediksi Skor Lillestrom SK vs Viktoria Plzen di Liga Europa: Duel Berpotensi Berjalan Terbuka
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Prediksi Skor Lion City Sailors vs Adelaide United di ACL Two: Tuan Rumah Diunggulkan Menang Lagi

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022