
Warga membeli BBM di salah satu SBPU di Depok, Jawa Barat, Selasa (31/3/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Indonesia masih ketergantungan dengan impor energi, baik itu minyak maupun gas (migas). Impor itu karena kebutuhan energi nasional saat ini terus mengalami peningkatan.
Peningkatan kebutuhan energi itu dipicu oleh pertumbuhan penduduk dan ekonomi. Untuk mengatasi ketergantungan ini, pemerintah dan badan usaha energi disarankan mempercepat pemanfaatan potensi sumber daya energi Indonesia yang cukup besar.
Pakar transisi energi Institut Teknologi Bandung (ITB) Retno Gumilang Dewi mengatakan, dinamika global saat ini menunjukkan isu energi tidak lagi sekadar persoalan pasokan, tetapi juga persoalan geopolitik. Konsekuensinya, setiap negara saat ini saling berlomba mengamankan kebutuhan energinya masing-masing di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
“Agar aman dari dampak geopolitik tersebut, Indonesia harus lebih mandiri dalam mengelola potensi energi dalam negeri,” ujar Retno Gumilang Dewi saat menjadi salah satu pembicara pada diskusi bertema Peningkatan Ketahanan dan Transisi Energi Nasional Melalui Transformasi Strategis Pertamina di Jakarta, Selasa (19/5).
Diskusi itu turut hadir Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana, Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Hendra Gunawan, dan Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza.
Selain itu tampak pula Komisaris Independen Pertamina Raden Adjeng Sondaryani, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Pertamina Agung Wicaksono, Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Minyak dan Gas Bumi Agung Kuswardono, serta Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro, dan Pengamat Hulu Migas Benny Lubiantara.
Dalam kesempatan itu Retno menjabarkan peta jalan transisi energi Indonesia untuk periode 2025–2060. Tahap pertama, berlangsung pada 2025–2030 dengan fokus pada stabilisasi dan penguatan ketahanan energi nasional sebelum memasuki dekarbonisasi penuh.
Pada fase ini, pemerintah harus mendorong diversifikasi energi melalui pemanfaatan gas domestik, co-firing biomassa di PLTU, implementasi biodiesel B40 menuju B50, pengembangan bioetanol, hingga percepatan energi baru terbarukan.
Kedua, berlangsung pada 2030–2040. Fase ini difokuskan pada percepatan pengembangan energi bersih melalui pemanfaatan energi surya, hidro, dan panas bumi, serta penguatan elektrifikasi sektor transportasi dan industri.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Kronologi Kecelakaan Maut BYD M6 di Kembangan Jakbar, Ibu dan Anak Meninggal di TKP
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Bournemouth vs Lincoln City di Carabao Cup: The Cherries Menang Lewat Adu Penalti
Kasus Keracunan MBG Berastagi Sisakan Masalah Serius, Siswa Alami Gangguan Saraf hingga Jantung
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor AEK Athens vs LASK Linz di Liga Champions: Tuan Rumah Pesta Gol!
Raditya Dika Gagal Pulang ke Indonesia, Pesawat dari Doha Putar Balik Usai 4 Jam di Udara
