
Arcandra Tahar.
JawaPos.com - Meningkatnya tensi di kawasan Teluk kembali menegaskan bahwa dinamika geopolitik memiliki peran besar dalam memengaruhi, bahkan mengendalikan, akses terhadap energi global. Pada 13 April, Amerika Serikat mengumumkan pemblokiran akses pelabuhan Iran setelah negosiasi dengan Teheran tidak mencapai kesepakatan.
Kebijakan tersebut diperkirakan mengganggu distribusi hingga 20 juta barel minyak mentah dan produk kilang per hari, sekaligus mendorong harga minyak menembus angka USD 100 per barel. Arcandra Tahar, Board of Experts Prasasti sekaligus pakar energi Indonesia, menilai situasi ini menunjukkan semakin dominannya faktor geopolitik dalam menentukan akses energi dunia.
"Diplomasi energi merupakan 'pintu pembuka' bagi keamanan energi suatu negara. Melalui hubungan antar-pemerintah atau government-to-government diplomacy, Indonesia dapat membangun aliansi politik tingkat tinggi yang memungkinkan akses langsung terhadap aset energi strategis di berbagai negara," ujarnya dalam analisis Prasasti dikutip Kamis (16/4).
Ia menjelaskan, akses terhadap sumber daya energi, khususnya di kawasan Timur Tengah, seringkali bergantung pada kekuatan hubungan antarnegara. Oleh karena itu, kerja sama bilateral menjadi elemen penting dalam membuka peluang kolaborasi sekaligus memberikan kepastian politik bagi investasi energi di luar negeri.
Arcandra juga mengingatkan bahwa strategi tersebut harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian di tengah situasi geopolitik global yang kian kompleks. Indonesia dinilai perlu mengoptimalkan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif guna menjaga keseimbangan relasi di tengah rivalitas global serta dinamika sanksi internasional.
"Dengan posisi yang tidak terikat pada blok kekuatan tertentu, Indonesia memiliki ruang diplomasi yang cukup luas. Jika dimanfaatkan secara tepat, hubungan politik antarnegara dapat diterjemahkan menjadi kerja sama produksi jangka panjang yang memperkuat keamanan pasokan energi nasional," tambahnya.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan Teluk kembali menyoroti peran strategis Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melintasi selat ini, menjadikannya salah satu titik krusial (chokepoint) dalam rantai pasok energi.
Gangguan keamanan di wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir telah meningkatkan ketidakpastian pasokan sekaligus memperbesar risiko dalam perdagangan minyak internasional.
Sementara itu, Halim Alamsyah, Board of Experts Prasasti, menilai kondisi ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi memengaruhi kemampuan Indonesia dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan geopolitik global.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022