
Ilustrasi aktivitas pengangkutan bahan tambang. (Istimewa)
JawaPos.com-Industri pertambangan Indonesia mulai memasuki fase baru yang ditandai peningkatan adopsi teknologi digital dan otomasi. Tren ini menjadi sorotan utama dalam pameran Mining Indonesia 2025 di Jakarta.
Pada acara tersebut, sejumlah produsen peralatan tambang memamerkan inovasi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan kerja di sektor ekstraktif.
Tekanan global menuju praktik pertambangan berkelanjutan juga membuat digitalisasi bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan. Sistem pemantauan berbasis data dan otomasi kini dianggap sebagai langkah strategis untuk menekan biaya operasional sekaligus mengurangi emisi karbon di area tambang.
Salah satu perusahaan yang menonjol dalam pameran tersebut adalah Epiroc, produsen alat berat dan teknologi pertambangan asal Swedia. Melalui platform digital Epiroc Mining Intelligence (EMI) dan Drill Quality Manager (DQM), perusahaan ini memperkenalkan sistem terintegrasi.
Sistem tersebut digadang memungkinkan pemantauan kinerja alat secara real time, analisis kualitas pengeboran, hingga optimalisasi efisiensi energi.
“Transformasi digital di industri tambang bukan sekadar mengganti mesin dengan sistem otomatis, tetapi membangun cara baru dalam bekerja yang lebih aman, cerdas, dan berkelanjutan,” ujar Gerrit Lambert, Direktur Epiroc South–Southeast Asia, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (30/10).
Penerapan teknologi tersebut juga diyakini telah menunjukkan hasil konkret di lapangan. Salah satu perusahaan tambang di Kalimantan dilaporkan berhasil meningkatkan efisiensi pengeboran dan menurunkan biaya operasional setelah menerapkan sistem DQM dan otomasi armada pengeboran.
Contoh tersebut memperlihatkan bagaimana integrasi teknologi digital dapat mengubah proses tambang menjadi lebih presisi dan ramah lingkungan.
Selain sistem digital, Epiroc juga memperkenalkan Boomer M20 S, mesin bor bawah tanah yang sudah siap otomasi (automation ready) dan memiliki opsi penggerak listrik. Kehadiran rig bertenaga baterai ini dinilai sejalan dengan upaya industri global untuk menekan penggunaan bahan bakar fosil di area pertambangan.
Meski adopsi teknologi terus meluas, tantangan lain muncul dari sisi kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur. Banyak operator tambang di daerah yang masih bergantung pada sistem manual, sementara penerapan otomasi membutuhkan kemampuan baru dalam membaca data dan mengelola sistem digital.
Banyak ahli menilai, teknologi hanya akan efektif jika tenaga kerja tambang juga ditingkatkan kapasitasnya. Indonesia disebut perlu memperkuat aspek pelatihan agar transformasi digital ini tidak timpang.
Transformasi digital di sektor tambang juga dinilai akan menjadi salah satu faktor penting dalam mencapai target efisiensi energi nasional dan emisi nol bersih (net zero emission) pada 2060.
Dengan dorongan dari pelaku industri, pemerintah, dan dunia pendidikan, masa depan pertambangan Indonesia diproyeksikan akan semakin bergeser menuju sistem yang lebih cerdas, aman, dan berkelanjutan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Pemerintah Bakal Menata Guru, PGRI Sebut Ada Harapan Baru bagi Pendidikan Indonesia
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Ipswich vs Sunderland: The Black Cats Berpeluang Curi Poin di Portman Road
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Ribuan Ojol Hadiri Kopdar Kebangsaan Jaga Jakarta, Ada Perpanjangan SIM Gratis
