Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Juli 2025 | 02.41 WIB

Pecah Rekor! Penjualan PAM Mineral Semester I Capai Rp 1,05 Triliun, Laba Usaha Meroket Lebih dari 300 Persen

ILUSTRASI. Wilayah Kerja pertambangan nikel milik PT PAM Mineral Tbk (NICL). (NICL) - Image

ILUSTRASI. Wilayah Kerja pertambangan nikel milik PT PAM Mineral Tbk (NICL). (NICL)

JawaPos.com - Emiten sektor pertambangan yang dikendalikan oleh Christopher Sumasto Tjia, PT PAM Mineral Tbk (NICL) berhasil mencatatkan penjualan pada semester I 2025 sebesar Rp 1,05 triliun, meroket sebesar 152,07 persen dibandingkan semester I 2024 yang sebesar Rp 419,19 miliar. Peningkatan yang signifikan pada nilai penjualan, ditopang dengan peningkatan volume penjualan nikel dari 707.597 mt (metrik ton) menjadi 1.885.433 mt atau meningkat sebesar 166,46 persen.

Imbas dari peningkatan penjualan diiringi dengan efisiensi biaya, laba kotor perseroan juga meningkat tajam dari Rp 142,85 miliar pada semester I 2024 menjadi sebesar Rp 523,46 miliar. Hal ini mencerminkan peningkatan yang signifikan sebesar 266,43 persen YoY. Seiring dengan peningkatan laba kotor, marjin laba kotor perseroan juga mengalami peningkatan dari sebesar 34,08 persen melesat menjadi sebesar 49,54 persen.

Sejalan dengan peningkatan laba kotor, laba usaha perseroan juga meroket dari sebelumnya hanya sebesar Rp 87,87 miliar pada semester I 2024 menjadi Rp 456,30 miliar pada semester I 2025 atau meningkat tajam sebesar 419,32 persen. Peningkatan volume penjualan serta efisiensi beban usaha menyebabkan laba neto periode berjalan perseroan melambung tajam yaitu sebesar Rp 358,07 miliar pada semester I 2025 dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 73,59 miliar. Laba neto periode berjalan semester satu I 2025 meningkat tajam sebesar 386,51 persen dari periode sebelumnya.

Direktur Utama perseroan, Ruddy Tjanaka mengatakan, sejak akhir tahun 2024, harga acuan nikel domestik mengalami penurunan sebesar 3,8 persen sejalan dengan tren global dan euforia pasar kendaraan listrik yang mulai normal. Serta, meningkatnya permintaan baja stainless steel. 

"Kami melihat bahwa penurunan harga nikel tersebut merupakan koreksi positif dan sudah diprediksi oleh perseroan. Perseroan sudah menyiapkan langkah antisipatif sejak awal tahun, tecermin dengan kinerja operasional dan keuangan perseroan yang bertumbuh pada semester I 2025. Kami meyakini penurunan harga ini merupakan fluktuasi jangka pendek dan perseroan berkomitmen untuk tetap adaptif terhadap situasi terkini guna mempersiapkan juga mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi," ungkap Ruddy melalui keterangan tertulisnya, dikutip Senin (21/7). 

"Di tengah situasi geopolitik global yang belum stabil dan turut berdampak pada perekonomian dalam negeri, kami tetap merasa puas dengan kinerja operasional dan keuangan perseroan pada kuartal II 2025," ungkap Ruddy.

Perseroan mencatatkan pertumbuhan jumlah aset pada semester I 2025 sebesar Rp 1,09 triliun atau tumbuh sekitar 4,73 persen dibandingkan dengan jumlah aset pada tahun 2024 yaitu sebesar Rp 1,05 triliun. Pada periode Juni 2025, perseroan mencatatkan penurunan jumlah liabilitas dimana pada periode tersebut perseroan mencatatkan Rp 150,69 miliar jumlah liabilitas dibandingkan dengan periode Desember 2024 sebesar Rp 171,92 miliar. Perseroan juga tidak memiliki utang bank jangka panjang.

Di sisi lain, total ekuitas perseroan mengalami peningkatan dari Rp 878,18 miliar menjadi Rp 949,13 miliar pada periode semester I 2025, hal ini disebabkan oleh peningkatan saldo laba tahun berjalan perseroan yang sangat signifikan. Kinerja operasional perseroan pada semester I 2025 ini memberikan dampak positif pada keuangan perseroan, sehingga posisi neraca perseroan cukup sehat dan kuat. 

"Secara historis, perseroan selalu membagikan dividen dan di tahun ini perseroan juga telah membagikan dividen interim untuk periode buku 31 Maret 2025 kepada para pemegang sahamnya sebesar Rp 159,53 miliar atau setara dengan 82,60 persen dari laba bersih periode berjalan perseroan. Kedepannya, perseroan berkomitmen untuk melakukan pembagian dividen kembali kepada pemegang saham yang besarannya akan menyesuaikan dengan persetujuan RUPS," ungkap Ruddy.

Pasar Masih Fluktuatif

Perseroan memperkirakan pada semester II 2025 ini, harga nikel masih bergerak fluktuatif imbas dari kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat yang masih menghantui stimulus ekonomi global ditambah dengan adanya kelebihan pasokan yang dapat menambah tekanan pada harga nikel. Namun, industri nikel domestik memiliki peluang strategis dimana adanya ketegangan antara Tiongkok dan negara barat yang membuat banyak negara mencari alternatif pasokan logam kritis, Indonesia dapat memanfaatkan peluang itu sebagai pemain kunci non-Tiongkok. 

Kondisi dan situasi nikel domestik saat ini semakin kompetitif dengan adanya beberapa smelter yang beroperasi dengan berbagai teknologi sehingga hal ini menjadi keuntungan untuk perseroan dengan beberapa jenis kategori (produk) ore yang diproduksi oleh perseroan sesuai dengan kebutuhan market.

Melihat situasi market domestik saat ini sebagai bagian dari strategi perseroan dengan memperluas jaringan pemasaran melalui upaya menjalin kerja sama dengan beberapa smelter dan trader sehingga wilayah area pemasaran tidak hanya di wilayah Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah akan tetapi sampai ke Pulau Obi dan Pulai Halmahera.  Selain itu perseroan juga akan membuka peluang untuk mencari beberapa partner strategis dalam rangka pengembangan usaha perseroan.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore