Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Juli 2023 | 07.29 WIB

Implementasi CCS dan CCUS Mantapkan Posisi Krusial Migas dalam Era Transisi Energi

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati. (Istimewa) - Image

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati. (Istimewa)

JawaPos.com-Di tengah permintaan energi yang terus meningkat, industri hulu migas sebagai penyokong utama dalam pemenuhan kebutuhan tersebut justru menemui tantangan cukup besar yakni transisi energi dan upaya global dalam menekan emisi karbon.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, posisi Indonesia saat ini merupakan negara importir energi termasuk migas sehingga menjadi prioritas utama adalah mengamankan ketersediaan energi.

"Kita harus memproduksi (migas) untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Pemerintah mau tingkatkan produksi, sehingga kita banyak mengalokasikan biaya investasi di situ (peningkatan produksi)," kata Nicke dalam sesi diskusi CEO Industri Outlook IPA Convex 2023 bertemakan Navigating the Energy Trilemma, di ICE BSD, Tangerang, Selasa (25/7).

Dia menjelaskan, Pertamina terus melakukan eksplorasi migas untuk menemukan cadangan baru agar produksi meningkat. Pada saat bersamaan, program dekarbonisasi juga tidak bisa ditawar sebagai komitmen Indonesia untuk mencapai target net zero carbon emission.

Pertamina, kata Nicke, menjadikan penerapan Carbon Capture Storage (CCS)/Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) sebagai salah satu fokus dekarbonasi dalam menjalankan kegiatan operasi di hulu migas. "Dekarbonisasi harus ada melalui CCS/CCUS, dan kita harus eksplorasi blok migas baru untuk tingkatkan produksi," jelas Nicke.

Nicke mengungkapkan, selain sebagai alat dekarbonisasi, CCUS juga digunakan untuk mengoptimalkan sumur produksi yang sudah ada. Sejauh ini, menurut Nicke, Pertamina memiliki dua program utama dalam mengembangkan CCS/CCUS yakni di lapangan Jatibarang dan lapangan Sukowati.

"Pekerjaan yang tidak kalah penting menurut Nicke adalah menyeimbangkan prioritas ketahanan energi, keterjangkauan serta kelestarian lingkungan untuk memenuhi kebutuhan energi dan masa depan dekarbonisasi dalam bisnis hulu migas," ungkapnya.

CEO Petronas Tan Sri Tengku M Taufik Tengku Kamadjaja Aziz mengungkapkan, manajemen Petronas fokus pada kondisi energi saat ini yang sangat rentan akan kondisi krisis. Untuk itu perusahaan harus terus mencari sumber daya migas yang baru.

"Saya katakan kepada manajemen cari dan produksi migas dengan bertanggung jawab terhadap lingkungan, tapi tetap harus mengoptimasi biaya. Setiap rencana pembangunan harus mempertimbangkan pengurangan karbon, jadi CCS/CCUS adalah hal yang sangat kritis," kata Taufik.

Dia berharap kegiatan pencarian cadangan migas tetap ada, karena secara teori, migas tetap dibutuhkan dalam jumlah besar dan justru jumlahnya meningkat di masa depan, tidak hanya untuk transportasi ataupun tenaga listrik namun juga sangat dibutuhkan bagi industri.

"Eksplorasi tidak boleh dianggap mati. Ini bisa jadi kematian prematur. Saat permintaan energi dari berbagai sektor naik, sedangkan proporsi migas itu mulai menurun, artinya kita tetap butuh migas sampai ada sistem baru yang berjalan," ujarnya. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore