
Wakil Menteri Keuangan II Thomas Djiwandono. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
JawaPos.com - Pada pemerintahan baru, sejumlah target telah dicanangkan. Meski begitu, tantangan ekonomi juga perlu diwaspadai. Dalam sebuah sesi tanya jawab dengan media di Anyer, Serang, Banten, kemarin (25/9), Wakil Menteri Keuangan II Thomas Djiwandono berbicara terkait pandangan ekonomi di masa Presiden Prabowo Subianto.
Pada tahun depan, target pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp 3.005,1 triliun. Dengan target yang tinggi itu, bagaimana strategi pemerintah dalam mengejarnya? Terutama seiring dengan tren penurunan harga komoditas ke depan.
Bahwa harga komoditas turun itu, yes. Tetapi poinnya, meski harga komoditas turun, lalu gonjang-ganjing ekonomi global, ekonomi Indonesia tetap resilien. Fundamental makro masih menunjukkan angka-angka yang baik. Komoditas memang cyclical.
Justru saya mau garis bawahi bahwa pemerintah ke depan akan mencari growth engine, sektor-sektor yang memberi pertumbuhan ekonomi lain. Pak Prabowo berkali-kali menjelaskan pemikiran beliau tentang ketahanan pangan, transisi energi, digitalisasi, dan lainnya.
Bagaimana pandangan secara umum, termasuk dari Prabowo, terkait prospek ekonomi ke depan?
Hampir semua penjelasan beliau soal ekonomi saat ini justru kita punya potensi ke 8 persen (target lima tahun pemerintah). Tetapi, optimisme itu tentu dengan suatu pemahaman bahwa keadaan dan fragmentasi global yang kita harus waspadai.
Program-program unggulan Pak Prabowo itu sifatnya jangka panjang, yakni pada SDM anak bangsa. Kalau kita tidak optimistis, ya nggak mungkin kita mau berinvestasi ke hal-hal yang sifatnya jangka panjang.
Sektor apa saja yang potensial dinilai sebagai growth engine baru di masa depan?
Hampir semua sektor sedang didalami. Hilirisasi akan dilanjutkan, justru diperdalam lewat komoditas mining yang lain seperti alumina, timah, dan lainnya. Kita juga tidak mungkin hanya melihat sektor tersebut. Kita harus topang dari sektor lain.
Pak Prabowo juga sering bercerita soal transisi energi dan ketahanan pangan, itu dampaknya luas. Angka 8 persen itu bukan target overnight, itu target yang diminta Pak Prabowo di kabinet yang baru.
Bagaimana pandangan mengenai penurunan kelas menengah dan dampaknya ke depan. Terutama targettarget tinggi yang telah dicanangkan pemerintah?
Penurunan kelas menengah memang menjadi tantangan utama dari ekonomi kita seperti apa. Penurunan itu ada kaitannya dengan kondisi saat pandemi. Kalau dilihat dari matrix, discretionary spending-nya perlu kita perhatikan, shift-nya ke makanan. Yang tadinya discretionary spending untuk baju, belanja, jalan-jalan, ini jadi berpindah ke makanan. Tetapi, tantangan yang dialami kelas menengah bukan karena kebijakan tertentu yang kurang saja. (dee/c17/dio)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
