Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 31 Mei 2024 | 19.18 WIB

Optimistis Pasar Nikel Makin Cerah, NICL Targetkan Penjualan hingga Akhir Tahun Rp 1,289 Triliun

Wilayah konsesi tambang nikel dioperasikan PT PAM Mineral Tbk (NICL). - Image

Wilayah konsesi tambang nikel dioperasikan PT PAM Mineral Tbk (NICL).

JawaPos.com - Komoditas nikel di Indonesia dihadapkan pada tekanan kelebihan pasokan (oversupply) pada kuartal-I 2024, hingga menyebabkan penurunan harga yang signifikan. Berdasarkan data dari Ditjen Minerba, Kementerian ESDM, harga acuan nikel sejak periode September 2023 hingga Maret 2024 telah mengalami penurunan sebesar 23,08 persen.

Hal ini tentu berdampak negatif bagi emiten pertembangan nikel di Indonesia, tak terkecuali emiten produsen nikel yakni PT PAM Mineral Tbk. Emiten berkode ticker NICL ini hanya mencatatkan laba bersih pada kuartal-I 2024 sebesar Rp 12,2 miliar.

Perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp 116,7 miliar, atau mengalami penurunan sebesar 54,98 persen dibandingkan kuartal-I 2023 yang mencapai Rp 259,4 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan volume produksi nikel karena RKAB Perseroan (NICL) baru terbit pada bulan Mei 2024 (Q2).

Namun, perseroan berhasil melakukan efisiensi beban pokok pendapatan dengan meningkatkan Marjin Laba Kotor pada kuartal-I 2024 menjadi 37,07 persen dari 36,92 persen pada periode sama tahun lalu.

Seiring dengan menurunnya penjualan perseroan, Laba Usaha Perseroan juga mengalami penurunan 74,85 persen, menjadi Rp 19,5 miliar dari sebelumnya Rp 77,8 miliar.

"Sehingga dari sisi Laba Bersih, Perseroan hanya mencatatkan keuntungan pada Triwulan I-2024 sebesar Rp 12,2 miliar atau mengalami penurunan sebesar 78,92 persen dibandingkan dengan Triwulan I-2023," tutur Direktur Utama PAM Mineral, Rudy Tjanaka melalui keterangan tertulis, Jumat (31/5).

Penurunan tersebut disebabkan karena Persetujuan RKAB Entitas anak (IBM), yang baru disetujui pada akhir bulan Februari. Sehingga total penjualan yang tercatat pada kuartal-I 2024 hanya merupakan penjualan selama bulan Maret.

Dari sisi neraca, perseroan mencatatkan total aset pada kuartal-I 2024 sebesar Rp 881,7 miliar, tumbuh signifikan dibandingkan dengan total aset periode sama 2023 yang sebesar Rp 692,1 miliar.

Di sisi lain, total hutang pada kuartal-I 2024 tercatat sebesar Rp 123,9 miliar atau tidak berubah signifikan dari periode sebelumnya sebesar Rp 119,9 miliar. Sementara untuk total ekuitas perseroan mengalami peningkatan yaitu dari Rp 572,1 miliar menjadi Rp 757,7 miliar yang disebabkan oleh peningkatan saldo laba perseroan.

Diuntungkan Situasi Geopolitik

Hingga kuartal-I 2024, Perseroan (PT PAM) memiliki lahan konsesi pertambangan nikel yang berlokasi di Desa Buleleng, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali. Lahan tersebut merupakan lahan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi produksi seluas 198 Hektare (Ha) dengan area tertambang seluas 47 Ha. Cadangan terkira daerah IUP Perseroan sebesar 3,7 juta ton dengan kadar Ni sebesar 1,51 persen.

Untuk Entitas anak (PT IBM), memiliki lahan konsesi pertambangan nikel yang berlokasi kecamatan Langgikima, kabupaten Konawe Utara, provinsi Sulawesi Tenggara. Lahan tersebut merupakan lahan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi produksi seluas 576 Ha dengan area tertambang seluas 60,72 Ha, dimana cadangan terkira dan terbukti sebesar 9,42 juta ton dengan kadar Ni sebesar 1,30 persen. 

Pada kuartal-II 2024 situasi geopolitik yang saat ini berkembang, diantaranya yaitu meluasnya sanksi AS dan Inggris terhadap Rusia terhadap ekspor bahan mentah dan larangan penjualan di London Metal Exchange (LME) dan Chicago Mercantile Exchange (CME). Selain itu, insiden di Kaledonia Baru yang memengaruhi operasional perusahaan pertambangan nikel yaitu terganggunya aktivitas produksi tambang dan beberapa pertambangan nikel di Australia mengalami gangguan pasokan akibat faktor biaya.

Akibat beberapa sentimen ini, pasokan bijih nikel dunia terutama di Kaledonia Baru dan Australia tidak normal, yang diperkirakan dapat menjadi katalis positif untuk kenaikan harga dalam rantai industri nikel kedepannya. Hal ini tecermin dengan meningkatnya harga acuan nikel pada akhir April 2024 sudah meningkat 8,76 persen menjadi USD 17.424,52 per dmt dibandingkan dengan periode Maret 2024 yang berada pada level USD 16.021,67 per dmt.

"Perseroan meyakini bahwa adanya beberapa sentimen positif tersebut, dan telah disetujuinya RKAB untuk tahun 2024, perseroan akan menggenjot produksi dan penjualan yang kemudian akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan," tutur Rudy.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore