Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Oktober 2020 | 21.45 WIB

Bagaimana Cara Memulai Investasi di Pasar Modal?

Wartawan mengamati layar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis pekan ini. Selama perdagangan, IHSG terus bergerak di zona merah bahkan hi - Image

Wartawan mengamati layar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis pekan ini. Selama perdagangan, IHSG terus bergerak di zona merah bahkan hi

JawaPos.com - Ketidakpastian adalah sesuatu yang pasti. Termasuk ketidakpastian kondisi keuangan. Guna mengantisipasi ketidakpastian keuangan masa depan, perlu kiranya seseorang menyisihkan sebagian penghasilan untuk investasi.

Investasi adalah sesuatu hal yang kita lakukan saat ini untuk mendapatkan keuntungan pada masa yang akan datang. Investasi sangat beragam. Ada deposito, properti, emas, mata uang asing, dan investasi di pasar modal.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi di pasar modal, ada baiknya dipahami terlebih dahulu apa itu investasi di pasar modal. Pasar modal adalah tempat bertemunya antara pihak yang membutuhkan modal dan pihak yang memiliki modal. Esensinya sama dengan pasar pada umumnya. Yang membedakan adalah kegiatan dan metodenya.

"Di pasar umum, pembeli dan penjual bertemu secara fisik di tempat jual-belinya. Sedangkan di pasar modal, transaksi atau jual-belinya diwakili oleh perusahaan sekuritas, misalnya Mandiri Sekuritas," kata Norman Aditya Andreswara, Senior MOST Advisor Mandiri Sekuritas, baru-baru ini.

Di pasar modal Indonesia ada yang namanya Bursa Efek Indonesia (BEI), ada Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), ada juga Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Masing-masing memiliki fungsi. "Kalau kita bayangkan pasar modal itu mal, maka BEI adalah manajemen malnya, dan sekuritas itu adalah toko-tokonya," jelas Norman.

Hingga saat ini, ada sekitar 700 saham yang diperdagangkan di pasar modal Indonesia. Sebanyak lebih dari 400 diantaranya masuk Daftar Efek Syariah (DES). Perusahaan yang tercatat di bursa ini, menjual saham atau menerbitkan obligasi untuk mendapatkan modal. Investor, baik lokal maupun asing, boleh membelinya langsung maupun lewat manajer investasi (fund manager).

Mulai Investasi di Pasar Modal

Untuk memulai investasi di pasar modal, hal pertama yang perlu dimiliki tentu adalah modalnya terlebih dahulu. Setelah itu, siapkan e-KTP, NPWP, dan buku tabungan. Setelah siap semua, silakan pilih sekuritas untuk dibukakan rekening efek.

Ketika sudah dibukakan rekening efek, otomatis investor punya rekening di KSEI, juga dibukakan Rekening Dana Investor (RDI). Setelah semuanya siap, maka Anda bisa mulai investasi di produk-produk pasar modal.

Mengenal Saham, Obligasi, dan Reksa Dana

Produk di pasar modal Indonesia terbagi menjadi saham, obligasi, dan reksa dana. Ada juga produk derivatif.

SAHAM. Ini adalah produk paling populer di pasar modal. Sederhananya adalah surat bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Saham diterbitkan oleh perusahaan yang ingin mendapatkan modal melalui proses Initial Public Offering (IPO).

Dalam proses ini, perusahaan menawarkan sejumlah saham kepada investor. Saham bisa menjadi pilihan investasi bagi Anda yang punya modal, tapi tidak ingin menjalankan bisnis sendiri karena berbagai alasan.

 

Ilustrasi pengelolaan aset dengan menerapkan perencanaan keuangan yang baik. Pixabay

Perencanaan keuangan yang baik bisa dilakukan salah satunya lewat investasi di pasar modal. (Pixabay)

Apa manfaat berinvestasi di saham? Pertama yaitu dividen, atau simpelnya adalah bagi hasil. Sebagai pemegang saham, Anda akan diundang ke RUPS untuk mendengarkan pemaparan, misalkan rencana pembagian dividen. Dividen dibagikan secara proporsional, tergantung berapa banyak saham yang kita miliki.

Waktunya juga berbeda-beda. Ada yang dibagikan pada awal tahun, tengah tahun, ada pula yang dibagikan pada akhir tahun. "Jadi, tidak bisa menentukan dapatnya kapan. Harus melalui RUPS," ujar Norman.

Manfaat kedua yaitu berkesempatan mendapat keuntungan dari kenaikan harga saham itu sendiri, atau istilahnya capital gain. Misalnya, ketika Bank Mandiri (BMRI) pertama kali IPO pada 2003, harga saham saat itu di Rp 675 per lembar. Saat ini harga sahamnya (per 23 Oktober) sebesar Rp 5.550 (setelah stock split, sebelum stock split sekitar Rp 10 ribu).

"Bayangkan ketika 2003 Rp 675, sekarang sudah Rp 10 ribuan. Itulah capital gain, selisihnya yang bisa kita dapatkan. Itu bisa terjadi karena kinerjanya meningkat terus," lanjut Norman.

Ada manfaat, ada juga risiko berinvestasi di saham yang perlu Anda tahu. Ketika kinerja perusahaan yang sahamnya Anda beli tidak sesuai ekspektasi, maka harga sahamnya akan turun atau malah bisa di bawah modal. Ini adalah risiko volatilitas saham. Ketika saham yang harganya lagi turun itu dijual, Anda akan mengalami capital loss.

Namun, lanjut Norman, risiko capital loss itu tidaklah mutlak. Lantaran karakteristiknya yang volatile, bisa turun-bisa naik, maka ada kemungkinan saham yang saat ini turun, harganya kembali naik pada masa yang akan datang. Bisa jadi saham yang kalau dijual saat ini Anda akan buntung atau mengalami capital loss, tapi jika dijual tahun depan malah untung atau capital gain.

Yang menjadi momok bagi investor adalah ketika kinerja perusahaan terus memburuk, bangkrut, dan akhirnya dilikuidasi. Secara peraturan, pemegang saham akan menjadi bagian paling akhir yang dipikirkan oleh perusahaan. Inilah salah satu alasan investasi di saham disebut high risk atau berisiko tinggi.

"Ketika dilikuidasi, perusahaan itu harus bayar utang-utang terlebih dahulu, baik ke perbankan mungkin dia menerbitkan obligasi, surat utang itu harus dibereskan dulu. Kemudian pajak-pajak yang belum terbayar," kata Norman.

"Kalau masih ada sisa, baru ke pemegang saham. Biasanya sih sudah tidak ada uangnya. Buat bayar-bayar utang, aset-aset yang tersisa biasanya sudah habis. Itulah the big risk berinvestasi di saham," lanjutnya.

OBLIGASI. Selain dari menjual saham, perusahaan juga bisa mendapat modal di pasar modal melalui penerbitan surat utang atau obligasi. Apa bedanya investasi di obligasi dengan saham?

Pertama, besaran imbal hasil (return) obligasi pasti. Ketika perusahaan menerbitkan obligasi, dalam penawarannya sudah tertuang berapa persen kupon yang akan diperoleh investor. Sementara investasi di saham, tidak diketahui pasti berapa keuntungannya.

Kedua, tidak seperti saham, ada jatuh tempo di obligasi. Waktunya beragam, ada yang 1 tahun, 3 tahun, 6 tahun, bahkan 20 tahun. Norman menyarankan, jika Anda bukan tipikal risk taker namun ingin mendapat imbal hasil yang cukup moderat, maka berinvestasilah di obligasi.

Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/9/2020). IHSG kembali bangkit setelah empat hari berturut-turut berada di zona merah dengan ditutup menguat 103,03 poin atau 2,13 persen ke posisi 4.945,79. Fo

Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/9). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Namun, sama halnya saham, investasi di obligasi juga ada risikonya. "Sama seperti kita ngasih utang ke teman, ada potensi gagal bayar," ucap Norman.

Ketika kinerja perusahaan ternyata tidak sesuai ekspektasi, maka ada kemungkinan gagal bayar, baik pokoknya maupun kuponnya.

Risiko lain adalah nilainya turun ketika timing menjualnya tidak tepat. Ketika BI rate dinaikkan, dan kebetulan Anda lepas obligasi ke pihak lain, maka harganya akan ditawar lebih murah. Kenapa? Karena imbal hasilnya sudah tidak menarik lagi, dikarenakan mendekati bunga deposito.

Nah, risiko investasi di obligasi ini bisa diminimalkan dengan cara memilih produk Surat Berharga Negara (SBN). SBN sama juga dengan obligasi. Bedanya, obligasi diterbitkan korporasi atau perusahaan. Sedangkan SBN diterbitkan oleh pemerintah.

Pertanyaannya, apakah ketika negara bangkrut lantas pemerintahnya bisa gagal bayar ke pemegang SBN? "Worst case Yunani itu negaranya bangkrut. Obligasi pemerintahnya nggak hilang. Hanya diundur saja temponya," kata Norman.

REKSA DANA. Penyakit pemula adalah perasaan takut. Sudah punya modal, tapi bingung mana saham atau obligasi yang harus dibeli. Tenang saja, Anda belum ketemu jalan buntu. Di pasar modal Indonesia, ada produk yang namanya reksa dana. Ini artinya investasi kita dikelola oleh fund manager.

"Jadi, yang membelikan produknya bukan kita sendiri. Tapi kita percayakan, kita wakilkan ke pihak manajer investasi. Beli saham apa, beli obligasi apa, kita serahkan ke fund manager," ujar Norman.

Analoginya, jika membeli saham atau obligasi itu berarti kita menyetir sendiri, maka fund manager ini adalah sopirnya. Oleh karena itu, kita harus jeli memilih driver yang andal dan punya kinerja baik. Cara paling sederhana untuk mengetahui fund manager bagus atau tidak adalah dengan melihat dana kelolaannya.

"Cari yang dana kelolaannya terbesar diantara fund manager lainnya," terang Norman.

Setidaknya ada empat produk reksa dana yang lazim di pasar modal Indonesia. Keempatnya yakni reksa dana saham, reksa dana obligasi, reksa dana pasar uang, dan reksa dana campuran. Reksa dana pendapatan tetap (RDPT) ada di obligasi. Reksa dana campuran artinya ada obligasi, saham, dan pasar uang di dalamnya. Sedangkan reksa dana pasar uang adalah yang paling kecil risikonya.

https://www.youtube.com/watch?v=KktEAdTG6GU&ab_channel=JawaPos

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore