
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan statemennya saat konferensi pers di media centre G20, Nusa Dua, Bali, Rabu (16/11/2022). FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS
JawaPos.com - Pemerintah tetap bersikukuh menjalankan hilirisasi di tengah kekalahan gugatan dispute settlement body (DSB) yang dilayangkan World Trade Organization (WTO) atas kebijakan larangan ekspor bijih nikel. Presiden Joko Widodo menegaskan, pemerintah tak akan menyerah memperjuangkan hilirisasi.
Jokowi bahkan mengingatkan pada kondisi di zaman penjajahan silam saat ada sistem tanam paksa. "Dulu zaman VOC, zaman kompeni, itu ada yang namanya kerja paksa, ada yang namanya tanam paksa. Zaman modern ini muncul lagi, ekspor paksa. Ekspor paksa. Kita dipaksa untuk ekspor," katanya di Jakarta Jumat (2/12).
Menurut presiden, Indonesia memiliki hampir semua yang dibutuhkan untuk membuat ekosistem baterai listrik dan turunannya. Hal itu membuat negara lain bergantung pada RI.
Jokowi mencontohkan dua negara yang berhasil membuat negara lain bergantung pada produk mereka. Yakni, Taiwan dengan produk cipnya dan Korea Selatan dengan komponen digitalnya.
Selain itu, kehadiran ekosistem besar kendaraan listrik juga akan mendongkrak pendapatan negara, baik melalui penerimaan pajak, royalti, dividen, bea ekspor, maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Jika penerimaan negara bertambah, Jokowi melanjutkan, berarti anggaran untuk dana desa juga bertambah. Dengan demikian, masyarakat desa akan turut menikmati hasil dari ekosistem kendaraan listrik yang tengah dibangun oleh pemerintah.
Dia memastikan bahwa pemerintah akan mengajukan banding terhadap putusan WTO. Menurut Jokowi, Indonesia memiliki hak untuk melakukan hilirisasi sumber daya alam (SDA).
"Ini barang kita kok. Memang sudah saya sampaikan kemarin kita kalah. Tapi, apakah kita langsung ingin berhenti saja, oh ndak," tegasnya.
Sementara itu, purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia melambat. Dari Oktober yang mencapai 51,8 menjadi 50,3 pada November.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu menjelaskan, meski melambat, PMI manufaktur RI masih berada di level ekspansif. Level itu masih terjaga dalam 15 bulan secara berturut-turut.
"Permintaan dalam negeri diindikasi masih cukup kuat, sebagaimana ditunjukkan oleh stabilitas konsumsi dalam negeri hingga saat ini," ujarnya di Jakarta Jumat (2/12).
Dia melanjutkan, penciptaan lapangan kerja juga masih ekspansif dan diharapkan bisa konsisten. Menurut Febrio, manufaktur justru menjadi salah satu sektor penting dalam menjaga kesinambungan pemulihan ekonomi domestik.
"Terutama di tengah kenaikan risiko dan ketidakpastian perekonomian global," imbuhnya.
PMI MANUFAKTUR NOVEMBER 2022 BEBERAPA NEGARA
Indonesia: 50,3 (Oktober 51,8)
Vietnam: 47,4 (Oktober 50,6)
Jepang: 49,0 (Oktober 50,7)
Myanmar: 44,6 (Oktober 45,7)
Malaysia: 47,9 (Oktober 48,7)
Tiongkok: 49,4 (Oktober 49,2)
Sumber: Kemenkeu

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
