Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Desember 2018 | 17.00 WIB

Ini Langkah Pemerintah Pacu Peningkatan Pendapatan Petani Teh Menoreh

Perkebunan teh Menoreh Kulon Progo, DIY - Image

Perkebunan teh Menoreh Kulon Progo, DIY

JawaPos.com - Pengelolaan perkebunan teh Menoreh di Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendapat apresiasi sejumlah peneliti asing atas pengelolaan perkebunan yang mampu memacu peningkatan pendapatan  petaninya. Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Ir Bambang MM mengatakan, pengelolaan kebun yang dilakukan dengan  baik akan memberi dampak signifikan pada perekonomian lewat peluang kerja bagi anak-anak muda setempat.


"Mereka (para peneliti) mengapresiasi managemen pengelolaan keluar masuknya teh. Bila sebelumnya hanya disetorkan ke perusahaan sehingga petani tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Saat ini, petani dengan membawa hasil panennya bisa membeli kebutuhannya, termasuk membeli beras," ujar Bambang dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (26/12).


Menurutnya, tamu spesial Guru Besar dari Universitas Nasional Korea Selatan dan Kamboja datang khusus ke Perkebunan Teh Menoreh, Kulon Progo untuk melakukan penelitian. Kepada warga setempat, keduanya mengaku takjub dengan pengelolaan pertanian teh Menoreh.


"Peningkatan yang sangat signifikan ini telah membuka peluang kerja bagi anak muda yang belum memiliki pekerjaan," imbuh Bambang.


Guna memberikan tambahan pengetahuan pengelolaan kebun teh, Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung Bandung menggelar bimbingan teknis (Bimtek) kepada puluhan Kelompok Tani Teh Menoreh Kulon Progo, DIY.


Ketua Kelompok Usaha Bersama Teh Menoreh, Sukohadi mengatakan, kegiatan bimbingan tehnis difokuskan pada materi penanaman hingga bimbingan pascapanen. Kedua materi ini diberikan secara berkala pada 18 poktan yang terdiri dari 327 Kartu Keluarga.


Menurut Sukohadi, bimtek ini juga sekaligus memberi pengetahuan cocok tanam serta tata cara merawat kebun yang baik agar tetap menghasilkan kualitas unggul.


"Karena di Menoreh ini ada 11 varian teh. Misalnya original, green tea, white tea, gold tea, yellow tea, jasmine, teh merah dan kualitas teh premium. Semua varian harus unggul karena bisa meningkatkan ekonomi melalui sektor wisata," katanya.


Selain memperoleh pendapatan dari produksi teh, lanjut Sukohadi, perkebunan Teh Menoreh juga sudah menjadi kawasan agrowisata yang banyak dikunjungi turis mancanegara.


"Mereka dapat melihat proses pengeringan, pembakaran hingga penyajian teh menoreh. Mereka juga terlihat senang dan antusias dalam setiap edukasi yang dijelaskan," paparnya.


Dirjen Perkebunan Bambang menambahkan, sektor perkebunan akan terus berupaya meningkatkan produksi dan ekspor. Hal ini mencakup komoditi-komoditi strategis yang diprioritaskan seperti teh, kopi dan kakao.


"Kita masih berfokus pada ketersediaan benih komoditas strategis untuk ekspor," imbuh Bambang.


Ia menyebutkan, untuk meningkatkan produksi tersebut, anggaran yang akan dialokasikan mencapai Rp 1 triliun. Dari nilai tersebut, 54 persen diantaranya dialokasikan untuk benih.


Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore