Photo
JawaPos.com - Kelapa sawit berperan penting dalam perekonomian di Indonesia. Komoditas perkebunan menjadi sumber devisa negara nonmigas, penyedia lapangan kerja, serta menjadi bahan baku berbagai industri pengolahan. Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) melaporkan kinerja sawit tahun ini di tengah berbagai tekanan ekonomi.
"Sektor sawit mendorong PDB pada angka yang positif sehingga PDB Indonesia pada kuartal III 2022 dapat tumbuh positif di angka 5,72 persen. Secara industri telah berkontribusi pada pendapatan pemerintah, keuntungan bagi perusahaan, lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan bagi petani kecil," papar Direktur Utama Badan BPDPKS Eddy Abdurachman Kamis (22/12).
Eddy membeberkan, kinerja penghimpunan dana BPDPKS tahun ini dari pungutan ekspor sawit mencapai Rp 34,5 triliun. Sedangkan kinerja imbal hasil dana kelolaan sebesar Rp 800 miliar. Penerimaan tersebut turun 51,8 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 71,6 triliun.
Eddy mengatakan bahwa penurunan tersebut terjadi lantaran kebijakan pelarangan ekspor yang diberlakukan pemerintah mulai 28 April hingga 22 Mei 2022. Hal itu berakibat kinerja ekspor sawit pada 2022 menjadi di kisaran 34,67 juta metrik ton dibandingkan pada 2021 yang mencapai 37,78 juta metrik ton.
"Di samping itu, ada penurunan penerimaan BPDPKS akibat penghapusan tarif PE kelapa sawit dan turunannya hingga 31 Agustus 2022," tambahnya.
Untuk tahun depan, BPDPKS menargetkan penerimaan dari pungutan ekspor (PE) sawit tidak jauh berbeda dengan 2022. Yakni, sebesar Rp 30-an triliun. Eddy menyebutkan, penurunan itu disebabkan prakiraan penurunan harga minyak sawit (CPO) akibat krisis ekonomi dunia. Target tersebut juga mempertimbangkan ketidakpastian global yang saat ini terjadi.
"Akan ada defisit jika kita hanya mengandalkan ekspor. Jadi, proyeksi kita cuma Rp 30-an triliun," urainya.
Meski demikian, dia memprediksi apabila Indonesia pada 2023 menerapkan program bahan bakar nabati jenis biodiesel ke dalam bahan bakar minyak jenis solar ditingkatkan menjadi 35 persen atau B35, harga CPO bisa berada di kisaran USD 970 per metrik ton. Dengan begitu, serapan minyak sawit akan berada di kisaran 13,5 juta kiloliter.
"Dengan akan diberlakukan program B35, kira-kira volume diserap sebagai bahan minyak sawit biodisel 13,5 juta kiloliter. Ini sekadar proyeksi yang dilakukan BPDPKS," bebernya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Pemerintah Bakal Menata Guru, PGRI Sebut Ada Harapan Baru bagi Pendidikan Indonesia
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Ipswich vs Sunderland: The Black Cats Berpeluang Curi Poin di Portman Road
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Ribuan Ojol Hadiri Kopdar Kebangsaan Jaga Jakarta, Ada Perpanjangan SIM Gratis
