
Ilustrasi: Maskapai penerbangan Garuda Indonesia
JawaPos.com - Pandemi Covid-19 menggerogoti kinerja maskapai nasional. Jantung bisnis penerbangan, yakni mobilitas masyarakat, sempat terhenti. Sejauh ini, kondisi keuangan sejumlah maskapai masih jauh dari menggembirakan.
PT Garuda Indonesia Tbk mencatatkan kerugian hingga Rp 16 triliun per September 2020. Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen mengaku sangat terpukul pandemi.
"Tahun 2020 menjadi tahun terburuk sepanjang sejarah bisnis airlines," papar manajemen dalam laporan keuangan tertulis.
Berdasar Laporan Kinerja Ekonomi Industri Airlines Global periode Juni 2020 yang dipublikasikan IATA, jumlah keberangkatan pesawat turun 2.246 juta atau setara dengan minus 50,6 persen. Itu jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebagai wilayah yang kali pertama terimbas pandemi, Asia-Pasifik mengalami kerugian lebih besar ketimbang area lain.
Namun, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra tetap optimistis kinerja perusahaan pada akhir kuartal 2020 akan membaik. "Berbagai upaya pemulihan kinerja yang dilakukan sudah on the track. Kami optimistis kinerja perusahaan pada periode tiga bulan ke depan akan positif. Khususnya saat libur panjang akhir tahun," ujarnya Sabtu lalu (7/11).
Tak hanya Garuda Indonesia, maskapai Lion Air pun berjuang di tengah pandemi. Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro menyampaikan bahwa dunia penerbangan, baik internasional maupun nasional, sedang menghadapi situasi luar biasa. Karena itu, pihaknya berdiskusi dengan seluruh lessor yang menjadi mitra perusahaan untuk mencari solusi terkait kesepakatan kerja sama (kontraktual) yang disepakati sebelum pandemi.
Sementara itu, maskapai AirAsia Indonesia menegaskan bakal tetap beroperasi. Bahkan, AirAsia juga merilis jadwal penerbangan baru untuk penerbangan domestik mulai 30 November 2020. Sebelumnya, kabar kurang menggembirakan datang dari AirAsia X Berhad yang dikabarkan akan menutup sementara operasionalnya di Indonesia.
"PT AirAsia Indonesia Tbk bersama entitas anak PT Indonesia AirAsia (kode penerbangan QZ) adalah entitas yang berbeda dan tetap melanjutkan operasionalnya di rute domestik dan internasional seperti biasa," terang Head of Secretary AirAsia Indonesia Indah Permatasari Saugi.
Pengamat penerbangan Ziva Narendra Arifin berharap pandemi menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan untuk mengkaji kembali kebijakan-kebijakannya. "Kita lihat di infrastruktur bandara, di daerah masih banyak yang perlu dibenahi. Dari sisi regulasi dan hukum, saat ini momentum untuk introspeksi," urainya.
Ziva memprediksi pemulihan bisnis penerbangan baru terjadi pada dua tahun mendatang atau 2022. Karena itu, lanjut dia, pelaku industri harus bisa lebih kreatif mengatur strategi agar bisnis penerbangan tetap berjalan dan dapat bertahan hingga pandemi usai.
VOLUME PENERBANGAN GLOBAL
Periode | Volume Penerbangan (dalam ribu) Per Desember | Volume Penerbangan (dalam ribu) Per April
2018–2019 | 716,7 | 740,9
2019–2020 | 708,4 | 287,7
VOLUME PENERBANGAN ASIA
Periode | Volume Penerbangan (dalam ribu) Per Desember | Volume Penerbangan (dalam ribu) Per April
2018–2019 | 228,8 | 224,3
2019–2020 | 222,6 | 109,9
Sumber: Business Insider
https://www.youtube.com/watch?v=9evbbvJHn3U

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
