Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Januari 2022 | 03.33 WIB

Keluar dari Resesi, Akhir Tahun Ditutup dengan Kenaikan Harga Pangan

Potret album yang berisi lagu Resesi. Eros Djarot menciptakan lagu Resesi sebagai alarm atau peringatan kepada pemerintah akan bahaya resesi. Sebab bisa saja menimpa Indonesia saat itu. (Twitter @AdibHidayat) - Image

Potret album yang berisi lagu Resesi. Eros Djarot menciptakan lagu Resesi sebagai alarm atau peringatan kepada pemerintah akan bahaya resesi. Sebab bisa saja menimpa Indonesia saat itu. (Twitter @AdibHidayat)

JawaPos.com - Tahun 2021 yang masih terselimuti oleh pandemi Covid-19 memicu berbagai ketidakpastian perekonomian seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Bahkan, kehadiran varian Delta pada pertengahan 2021 sempat membuat ekonomi jatuh bangun karena terjadi gelombang kedua Covid-19.

Namun, perjuangan perekonomian tanah air juga telah membuahkan hasil. Hal tersebut terlihat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengumumkan bahwa pada triwulan II 2021 ekonomi nasional meroket, hingga menyentuh angka 7,0 persen secara tahunan (year on year). Hal tersebut, membuat Indonesia resmi keluar dari resesi yang membelenggu akibat pertumbuhan ekonomi minus pada periode sebelumnya.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, angka tersebut tumbuh signifikan jika dibandingkan pada kuartal I 2021 yang tumbuh sebesar 3,31 persen. Secara kumulatif yaitu sejak Januari hingga Juni 2021 tumbuh 3,10 persen. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tanah air tak terlepas dari peningkatan ekonomi global pada kuartal II 2021, dimana pergerakan indeks PMI global pada Maret 54,8 yang terus mengalami kenaikan hingga Juni 2021 di posisi 56,6.

Selain itu, harga komoditas makanan dan hasil tambang internasional naik secara kuartal maupun tahunan mengalami kenaikan. Makanan gandum minyak kelapa sawit dan kedelai naik dan hasil tambang final alumunium dan tembaga di pasar naik.

Kemudian, pertumbuhan ekonomi RI juga dipengaruhi oleh pertumbuhan kuartal II 2021 beberapa minta dagang Indonesia seperti Tiongkok tumbuh 7,9 persen, Amerika Serikat (AS) naik 12,2 persen, Singapura Naik 14,3 persen, Korea Selatan naik 5,9 persen, dan beberapa mitra dagang lainnya.

"Pertumbuhan ekonomi negara lain mendorong permintaan luar negeri dari segi ekspor," ucapnya.

Margo menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tak terlepas dari adanya perbaikan penanganan Covid-19 dimana telah terjadi penurunan kasus dan pelaksanaan vaksinasi secara masif yang mendorong kepercayaan masyarakat.

Di tengah kebangkitan ekonomi, sayangnya virus varian Delta hadir ke tanah air yang membuat semua masyarakat cemas. Puncak gelombang kedua pun terhadi pada Juni hingga awal Juli 2021. Tingginya kasus penularan Covid-19 membuat pemerintah kembali menarapkan kebijakan pengetatan mobilitas.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengakui varian Delta turut menghambat pemulihan ekonomi tanah air yang membuat kinerja triwulan III 2021 menjadi lebih berat. Bahkan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terpaksa harus memangkas anggaran kementerian dan lembaga di tengah pandemi Covid-19 termasuk di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Sri Mulyani menjelaskan, dalam menghadapi situasi yang luar biasa ini diperlukan respon kebijakan yang cepat dan tepat termasuk pengelolaan APBN. Sebab, banyak kondisi yang tidak terencana memaksa beberapa anggaran tergeser dan difokuskan untuk penanganan pandemi.

"Kita menghadapi dalam situasi ini adalah situasi yang luar biasa, yaitu sebuah virus yang terus melakukan mutasi sehingga memang respons dari kebijakan terutama di APBN dalam,” ujarnya dalam rakornas secara virtual.

Sri Mulyani menyebut, pada situasi yang begitu berat, kebutuhan belanja untuk perlindungan masyarakat dan dunia usaha pun membengkak. Sehingga, anggaran belanja pemerintah meningkat di atas 10 persen dan menyebabkan APBN tahun lalu mengalami defisit hingga 6 persen.

Apalagi, ketika virus Covid-19 varian Delta datang menyerang hingga menimbulkan gelombang kedua di tanah air, memaksa pemerintah kembali melakukan rem darurat pada Juli 2021 lalu. Pengetatan dilakukan demi menekan dampak negatif dari virus mematikan tersebut.

Realokasi atau refocusing anggaran kementerian/lembaga (K/L) untuk program pemulihan ekonomi nasional (PEN) pun ditingkatkan. Diantaranya, kesehatan melonjak sangat tinggi, yang tadinya hanya Rp 130-140 triliun, melonjak menjadi di atas Rp 220 triliun.

Selain itu, pemerintah pun menganggarkan dana jumbo disektor kesehatan dengan melaksanakan program vaksinasi, perawatan pasien Covid-19. "Untuk mendanainya memang terpaksa mengurangi anggaran-anggaran di Kementerian atau Lembaga. Tapi itu bukan merupakan suatu intensi atau keinginan untuk melakukan, tapi ini adalah prioritas," tuturnya.

Pada kuartal III, BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 3,51 persen. Jika dibandingkan pada kuartal sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 1,55 persen. Pada sisi produksi, lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 16,10 persen.

Meski ekonomi nasional berangsur-angsur membaik, ritel modern mulai tumbang. Salah satunya adalah ritel modern terbesar di Indonesia yaitu Giant yang resmi tutup pada 31 Juli 2021, usai PT Hero Supermarket Tbk (HERO) selaku perusahaan pengelola mengumumkan berakhirnya operasional ritel format hypermarket tersebut pada akhir Mei 2021.

Swalayan Giant di Sawangan, Depok, Jawa Barat, Senin (31/5). PT Hero Supermarket Tbk akan menutup seluruh gerai Giant di Indonesia pada akhir Juli mendatang akibat perilaku konsumen yang beralih dari ritel berkonsep hypermarket dan fokus ke sektor peralat

Swalayan Giant di Sawangan, Depok, Jawa Barat, Senin (31/5). PT Hero Supermarket Tbk akan menutup seluruh gerai Giant di Indonesia pada akhir Juli. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

Menjelang akhir tahun, Virus Covid-19 varian Omicron masuk ke Indonesia dan menjadi sorotan pemerintah terkait penanganan dan dampak yang ditimbulkan oleh sektor kesehatan terhadap perekonomian. Meskipun banyak pihak yang mengatakan tidak seganas varian Delta, namun Sri Mulyani terus menyoroti perkembangan virus tersebut karena dampak keganasannya belum diketahui hingga saat ini.

"Sekarang ada varian baru Omicron yang masih terus menjadi variant of interest yang masih kita tidak ketahui. Bagaimana ini akan berdampak, apakah sama seriusnya dan sama merusaknya dengan varian Delta atau lebih ringan dibandingkan varian Delta," ungkapnya.

Dalam merespons virus Covid-19 yang masih terus bermutasi, Kemenkeu sendiri juga terus memberikan dukungan fiskal yang kuat terutama anggaran di sektor kesehatan dan program vaksinasi. Sebab, pandemi telah menimbulkan banyak kerugian bagi Indonesia, baik untuk masyarakat maupun perekonomian.

"Kita berharap pada kuartal keempat tahun ini pemulihan ekonomi kita akan terus menguat," pungkasnya.

Di sisi lain, Indonesia dapat meraup pendapatan pajak yang masih hebat. Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Suryo Utomo penyebut, capaian penerimaan pajak sudah mencapai 100 persen dari yang ditargetkan dalam APBN.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan neto penerimaan pajak hingga 26 Desember 2021 sebesar Rp 1.231,87 triliun. Sejumlah 138 Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di seluruh Indonesia berhasil mencapai target penerimaan pajak lebih dari 100 persen.

Seorang pedagang minyak goreng curah di pasar. Dipta Wahyu/JawaPos

Seorang pedagang minyak goreng curah di pasar. Dipta Wahyu/JawaPos

Sementara pada penghujung pergantian tahun, harga beberapa komoditas pangan naik secara menggila seperti cabai rawit merah, telur ayam, dan minyak goreng. DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mencatat, beberapa komoditas diluar dugaan mengalami kenaikan yang tidak wajar dan baru pertama kali ini terjadi. Hal itu menjadi rapot merah bagi pemerintah dalam pemenuhan pangan.

Terdapat tiga komoditas yang mengalami kenaikan diantaranya, minyak goreng, cabai rawit merah, dan telur. Tiga komoditas yang cukup mengejutkan masyarakat khususnya para kaum ibu di tengah momentum pergantian tahun.

"Jujur kami IKAPPI tidak menduga bahwa kenaikan harga pangan yang relatif panjang dan tinggi ini terjadi pada akhir tahun 2021," kata Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan dalam keterangan resminya.

Reynaldi menjabarkan, minyak goreng yang mengalami kenaikan yang cukup fantastis belum pernah terjadi. Pemicu melonjaknya harga minyak goreng karena harga kelapa sawit atau CPO dunia sedang tinggi yang mempengaruhi harga minyak goreng curah dan kemasan.

"Kami berharap pemerintah mengantisipasi dan melakukan upaya lanjutan sehingga tahun 2022 minyak goreng segera bisa turun harganya," tuturnya.

Kemudian, terkait kenaikan cabai rawit merah karena komoditas yang rutin terjadi akhir tahun. Terdapat dua faktor yang membuat harga cukup tinggi yang pertama karena cuaca dan karena permintaan tinggi, supply dan demand tidak seimbang.

Pihaknya berharap, kedepannya ada grand design pangan, dan strategi pangan untuk cabai rawit merah. Agar wilayah-wilayah produksi cabai rawit merah bisa diperbanyak.

Persoalan ini bisa diselesaikan sehingga tidak terjadi kenaikan harga setiap tahun. Tahun lalu sudah terjadi kenaikan ahrga mencapai Rp100.000 per kilogram. Hari ini terjadi kembali bahkan Rp100.000 lebih per kilogram.

Sementara, harga telur sempat tembus di angka Rp30.000. Hal ini adalah pencapaian terburuk dan berharap harga telur bisa di antisipasi dengan strategi desain telur dan ayam yang baik ke depan.

"Tiga catatan ini membuat kami memberikan rapor merah kepada Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian. Kami berharap agar kita bersama-sama menjaga agar harga pangan tidak tinggi dan masyarakat atau konsumen tidak kesulitan mendapatkan pangan," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore