Papan nama Uniqlo di Tokyo. (Kyodo)
JawaPos.com - Fast Retailing, perusahaan Jepang yang mengoperasikan jaringan pakaian Uniqlo, berpeluang menjadi peritel pakaian terbesar kedua dunia. Perusahaan tersebut membukukan penjualan rekor JPY 3,96 triliun atau sekitar Rp447,48 triliun, ditopang ekspansi pasar internasional dan strategi produk pakaian fungsional.
Dilansir dari Kyodo, Jumat (9/10), penjualan tersebut dicatat untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Agustus 2026. Sejumlah analis memperkirakan Fast Retailing akan menyalip H&M asal Swedia yang selama ini berada di posisi kedua, di bawah Inditex, pemilik merek Zara.
H&M membukukan penjualan sebesar 228,29 miliar krona Swedia atau sekitar USD 22,8 miliar pada tahun buku yang berakhir November 2025. Sementara itu, Inditex mencatat penjualan EUR 39,9 miliar atau sekitar USD 44,7 miliar pada tahun buku yang berakhir Januari 2026.
Chief Executive Officer Fast Retailing Tadashi Yanai sejak awal membidik posisi perusahaan sebagai produsen pakaian terbesar dunia.
"Bertekad untuk benar-benar mewujudkannya, kami membuat rencana untuk mencapainya, mengambil tindakan, dan mengubah diri sesuai kebutuhan," kata Yanai dalam konferensi pers laporan keuangan terbaru pada Kamis.
Yanai mengubah toko jahit dan pakaian pria milik ayahnya di Ube, Prefektur Yamaguchi, menjadi bisnis pakaian global. Sejumlah analis menilai Uniqlo berhasil membangun citra merek yang kuat dengan menawarkan produk berkualitas dan harga yang sepadan.
Dalam upaya naik ke posisi kedua dunia, Fast Retailing memperkuat konsep LifeWear, yakni pakaian sehari-hari yang mengutamakan kualitas, harga terjangkau, dan teknologi. Konsep ini diwujudkan melalui produk seperti pakaian dalam HeatTech dan Airism.
Strategi tersebut juga mengandalkan desain minimalis dan pengelolaan rantai pasokan yang efisien, mulai dari pengadaan bahan, desain, produksi, hingga penjualan.
Ekspansi internasional perusahaan kini semakin luas, dari Asia hingga Amerika Utara dan Eropa. Pertumbuhan tersebut semakin terasa setelah pandemi Covid-19 meningkatkan permintaan pakaian rumahan ketika masyarakat lebih banyak beraktivitas di dalam rumah.
"Merek ini baru saja memasuki fase pertumbuhan" di Amerika Utara dan Eropa, kata Takahiro Kazahaya, analis senior UBS Securities.
Menurut dia, pengenalan merek Uniqlo semakin meluas di komunitas lokal dan citranya mulai dianggap sebagai merek yang keren.
Uniqlo membuka toko luar negeri pertamanya di London pada 2001, lalu memasuki pasar Amerika Utara pada 2005. Namun, perusahaan sempat kesulitan membangun kesadaran merek di kedua kawasan tersebut.
Pandemi menjadi titik balik. Basis pelanggan Uniqlo meluas dan penjualan toko yang telah beroperasi selama setahun atau lebih di Amerika Utara dan Eropa mencatat pertumbuhan dua digit setiap tahun sejak tahun buku yang berakhir Agustus 2022.
Jumlah anggota aplikasi Uniqlo di kedua kawasan tersebut meningkat lebih dari tiga kali lipat. Tingkat pembelian ulang dalam satu tahun juga naik menjadi sekitar 60 persen, dibandingkan sekitar 40 persen pada tahun fiskal 2022.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Kuching City vs Tampines di ASEAN Club Championship: The Cats Unggul Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Didik J Rachbini: Putusan MK Ungkap Kebohongan Gibran dan Jokowi
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Meksiko vs Cile: El Tri Bakal Bangkit, La Roja Akhiri Tren Buruk
Gibran Terbukti Tak Punya Ijazah SMA, tapi MK Tidak Berwenang Diskualifikasi dari Wapres

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022