
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa usai menyampaikan tanggapan pemerintah pada Rapat Paripurna ke-3 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung kebijakan ekonomi di era Presiden RI ke 7 yakni Joko Widodo alias Jokowi. Dia mengungkap pertumbuhan sektor swasta atau non-government dalam 10 tahun terakhir berjalan lambat.
Menkeu Purbaya mengungkap jika pertumbuhan uang primer (base money atau MO) pada periode tersebut hanya tumbuh sekitar 7 persen. Bahkan, pertumbuhan kredit pun hanya naik di kisaran 5-7 persen.
"Pada waktu zaman 10 tahun terakhir itu, boleh dibilang private sector atau non government sector tumbuhnya amat lambat atau kebijakan fiskal dan moneter tidak mendukung sektor di luar pemerintahan," katanya di acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026, dikutip Sabtu (5/9).
Dia membandingkannya dengan era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dia mengungkapkan pertumbuhan uang primer naik dengan angka rata-rata 18 persen. Bahkan pertumbuhan kredit berada di angka 22 persen secara rata-rata selama 10 tahun.
"Kalau hitungan kita waktu zaman pak SBY itu base money itu tumbuhnya rata-rata 18 persen, kredit tumbuhnya 22 persen selama 10 tahun rata-rata," ujar Purbaya.
Selaras dengan ini, Purbaya mendorong koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih kuat antara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI). Salah satu langkah yang ditempuh yakni mengoptimalkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah untuk memperkuat likuiditas perbankan.
Menurut Purbaya, strategi tersebut merupakan bagian dari pendekatan yang ia sebut sebagai creative innovative financing atau innovative fiscal policy. Melalui kebijakan itu, dana SAL dialihkan dari BI ke sistem perbankan agar likuiditas meningkat dan dapat mendorong aktivitas ekonomi.
"Jadi, untuk saya cost-nya zero. Tapi uang yang di bank menggerakkan ekonomi sehingga tumbuhnya bisa lebih cepat, dan pasti bunga turunkan ketika supply bertambah di sistem perekonomian, supply uang . Itu sebetulnya insentif ke sektor non pemerintah," paparnya.
Hingga kini, pemerintah telah menempatkan sekitar Rp 400 triliun dana SAL ke perbankan. Dari jumlah tersebut, Rp 200 triliun dijadwalkan baru ditarik kembali oleh pemerintah pada Juli 2027.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Sidang Kasus Pemuda Dipukul Pengusaha Buah di Surabaya, Saksi Sebut Tak Melihat Kejadian Jelas
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Toulouse vs Lille di Liga Prancis: Les Dogues Berpeluang Sikat Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Bali United vs PSS Sleman: Dominikus Dion Harap Super Elja Main Pede
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
