
Ilustrasi pengguna mobil listrik melakukan pengisian daya pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dikelola PLN. (Istimewa)
JawaPos.com - Perubahan teknologi dan pergeseran industri otomotif dinilai mulai mengubah fondasi perekonomian Indonesia. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi tidak lagi bisa mengandalkan pola lama, ketika aktivitas ekonomi mampu bergerak relatif otomatis tanpa dorongan kebijakan yang besar.
Kepala Ekonom PT Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian mengatakan terdapat dua guncangan besar yang perlu diperhatikan. Yakni perkembangan artificial intelligence (AI) dan peralihan menuju electric vehicle (EV). Keduanya tidak hanya berdampak pada dunia industri, tetapi juga mengubah kebutuhan tenaga kerja serta rantai pasok.
Menurut Fakhrul, AI menghadirkan perubahan besar dalam proses produksi, distribusi hingga pengambilan keputusan. Otomatisasi membuat sejumlah pekerjaan berpotensi hilang, sementara pada saat yang sama muncul jenis pekerjaan baru yang membutuhkan kemampuan berbeda.
Perubahan serupa terjadi di sektor otomotif. Peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik mendorong industri menata ulang rantai pasok, termasuk pada sektor baterai, energi dan logistik.
“Shock ini mengubah ‘mesin produksi’ dari padat karya menjadi padat teknologi. Negara dan perusahaan yang tidak cepat beradaptasi akan tertinggal,” jelas Fakhrul dalam talkshow dengan tajuk From State Capitalism to Welfare State: Is Indonesia Moving Toward a New Economic Model? di Javarock Kemang, Kamis (3/9) lalu.
Di sisi lain, perubahan tersebut juga berpengaruh terhadap perilaku konsumen. Pola konsumsi rumah tangga semakin bergeser ke layanan digital dan kebutuhan yang berkaitan dengan energi baru. Situasi ini berlangsung bersamaan dengan ketidakpastian ekonomi, seperti inflasi, harga pangan dan biaya hidup yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatan.
Fakhrul menilai kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan pertumbuhan ekonomi yang berjalan secara otomatis. Sebelum era 2000, investasi relatif lebih mudah masuk dan pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen kerap dianggap dapat tercapai tanpa intervensi pemerintah yang besar.
Namun, situasi saat ini berbeda. Investasi perlu didorong, stabilitas fiskal harus dijaga, dan koordinasi kebijakan menjadi semakin penting agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
“Dengan kemampuan swasta yang menurun, ini yang menyebabkan hadirnya state capitalism,” ujar Fakhrul.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Prediksi Skor Villarreal vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Amankan 3 Poin!
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
