Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Juli 2026 | 18.01 WIB

Gubernur BI Mundur Diduga karena Rupiah Gagal Stabil, Suku Bunga Naik 2 Kali

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Selasa (12/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Selasa (12/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) tidak bisa dilepaskan dari tantangan ekonomi yang dihadapi bank sentral. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan efektivitas transmisi kebijakan moneter menjadi sorotan utama.

Peneliti Ekonomi dari  Bestari Indonesia Fasilitator (InFast) Hizkia Yosie Polimpong mengatakan, mundurnya Perry berpotensi memengaruhi sentimen pasar. Tekanan terhadap rupiah juga menjadi indikator yang mencerminkan masalah tersebut.

"Kalau dibilang masifnya tekanan rupiah, kayaknya hampir jelas ya. Dua kali naik suku bunga dalam 3 minggu, tapi tetap aja rupiah gagal stabil," ujar Hizkia kepada JawaPos.com, Senin (27/7).

Namun, kata Hizkia, pembahasan mengenai mundurnya Perry tidak boleh hanya fokus pada aspek politik. Isu independensi BI atau dominasi kebijakan fiskal terhadap otoritas moneter hanya sebagian kecil dari masalah.

Menurut dia, persoalan utama terletak pada efektivitas kerangka kebijakan moneter yang diterapkan selama ini. Stabilisasi nilai tukar rupiah belum tercapai dan pertumbuhan ekonomi belum mampu mengangkat kondisi kelas menengah.

"Soalnya, kita mesti lihat problem ekonomi yang mendasar di BI adalah fakta keras bahwa pertama rupiah gagal stabil, dan kedua growth terjaga, likuiditas terjaga, tapi kelas menengah jeblok terus. Artinya, model kerangka transmisi kebijakannya yang problematis sedari awal," ujar Hizkia.

Oleh karena itu, saran Hizkia, perhatian harus diarahkan pada konsep kebijakan pengganti Perry. Fokus tidak cukup hanya pada dinamika politik di balik pergantian pimpinan BI.

"Jadi problemnya apakah penggantinya punya tawaran kerangka transimisi kebijakan yang beda dari Perry yang artinya mesti keluar dari ortodoksi IMF-sentris, fundamental pasar, inflation targetting, dan seterusnya," katanya.

Hizkia juga mengkritisi anggapan bahwa independensi BI selama ini sepenuhnya terjaga. Perlu ditegaskan bahwa pemahaman independensi perlu diperluas dan tidak hanya soal bebas dari tekanan fiskal populis.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore