
Ilustrasi cuaca panas ekstrem. (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Lonjakan suhu akibat panas ekstrem (heat stress) mulai berdampak pada meningkatnya beban biaya kesehatan pekerja di Indonesia. Pengeluaran kesehatan yang ditanggung langsung oleh masyarakat atau out-of-pocket expenditure (OOP) tercatat melonjak hingga 207 persen dibandingkan tahun 2000.
Berdasarkan data terbaru, pengeluaran kesehatan per kapita yang dibayar langsung dari kantong pribadi mencapai USD 129 berdasarkan purchasing power parity (PPP) per tahun pada 2023.
Menurut laporan Global yang berjudul “Heat, health and increasing cost of living: A call for action” mengungkapkan, pangsa pengeluaran OOP di Indonesia sebesar 31 persen, sementara 69 persen sisanya ditanggung oleh belanja sistem kesehatan masyarakat.
Direktur Eksekutif Adelphi Global, Dennis Tänzler, mengatakan hal tersebut mengindikasikan masyarakat tetap membayar lebih banyak secara nominal setiap tahun untuk perawatan kesehatan.
Baca Juga:JD Vance Bongkar Borok Zionis Israel, Sebut Ada Upaya Dorong AS Terus Berperang dengan Iran
Menurutnya, jika pemerintah tidak berhenti membakar bahan bakar fosil, konsekuensi kesehatan dan ekonomi dari perubahan iklim akan terus memburuk. Untuk itu, pemerintah perlu menutup kesenjangan antara perencanaan adaptasi dan tindakan nyata bagi pekerja dan rumah tangga yang paling terpapar panas.
“Ini membutuhkan segitiga tata kelola baru yang terdiri dari kebijakan iklim, kesehatan, dan ketenagakerjaan yang menempatkan perlindungan individu dan keluarga sebagai pusatnya,” ujar Dennis dalam keterangan yang diterima, Kamis (16/7).
Dennis mengatakan, Sebagian besar wilayah Jawa dan Sumatra masuk dalam kategori risiko panas sedang hingga tinggi berdasarkan skenario iklim, dengan jumlah hari bersuhu di atas 30 derajat Celsius yang diproyeksikan berkisar antara 145 hingga 194 hari per tahun.
“Dengan proyeksi peningkatan frekuensi dan intensitas gelombang panas di masa mendatang, kebutuhan perawatan kesehatan akibat penyakit terkait panas, seperti sengatan panas, gangguan ginjal, dan penyakit kardiovaskular, diprediksi ikut melonjak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini lebih dari dua pertiga penduduk Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan domestik dengan pendapatan hanya USD 8,30 per hari. Kondisi ini menjadikan mereka sangat rentan terhadap guncangan finansial akibat biaya berobat yang harus ditanggung sendiri.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022