Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 10 Juni 2026 | 19.03 WIB

Berhari-hari Dihantam Dolar, Rupiah Hari ini Sedikit Menguat di Level Rp 17.961

Karyawan menghitung mata uang asing di di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Karyawan menghitung mata uang asing di di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sedikit menguat pada perdagangan Selasa (10/6). Berdasarkan data konversi mata uang yang ditampilkan Google Finance satu dolar AS setara dengan Rp 17.961 pada pukul 11.47 WIB.

Diketahui, beberapa hari terakhir rupiah sempat dihantam dolar di atas level Rp 18.000. Meski sedikit menguat, pergerakan kurs ini masih cenderung dinamis alias fluktuatif.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan, terdapat dua langkah utama yang disepakati BI dan Kemenkeu. Pertama, meningkatkan daya tarik investasi portofolio agar aliran modal asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik.

Menurut dia, kenaikan suku bunga di sejumlah negara telah memicu arus keluar modal asing dari pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. Karena itu, pemerintah dan BI berupaya meningkatkan imbal hasil investasi agar kembali menarik bagi investor.

"Yang pertama adalah meningkatkan daya tarik atau imbal hasil supaya portfolio inflow kembali masuk. Dengan kenaikan bunga luar negeri memang itu ada outflow, ada saham dan SBN dan juga kecil di SRP," ucapnya petemuan dengan DPR, Menkeu, dan Mensesneg, di Gedung DPR, Jakarta, Sabtu (6/6).

"Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," sambung Perry.

Langkah kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. Upaya tersebut dilakukan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Indonesia.

"Nomor dua adalah sama-sama menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan cara pengelolaan kas pemerintah tetap di BI. Tapi tentu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah," jelasnya.

Ia menilai langkah tersebut akan membantu menjaga efektivitas operasi moneter sekaligus mendukung stabilitas rupiah.

"Dengan demikian, operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas tukar rupiah. Sementara operasi fiskalnya juga mendukung," katanya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore