Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Mei 2026 | 01.20 WIB

Yang Tersenyum saat Rupiah Ambruk

Banyak orang mengeluhkan lemahnya nilai Rupiah di mata Dolar AS. Namun, ada pula pihak yang meraup cuan banyak. (ANTARA) - Image

Banyak orang mengeluhkan lemahnya nilai Rupiah di mata Dolar AS. Namun, ada pula pihak yang meraup cuan banyak. (ANTARA)

JawaPos.com - Banyak orang mengeluhkan lemahnya nilai Rupiah di mata Dolar AS. Nilai tukar Rupiah merosot bahkan tembus Rp 17.800 per Dolar AS mengerek harga banyak kebutuhan pokok, dari pangan hingga energi yang masih bergantung pada impor. Namun di sisi lain, ada pula yang meraup cuan, tersenyum saat Rupiah ambruk.

Pengusaha mebel dan ukir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, salah satunya, yang menikmati keuntungan di tengah menguatnya nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah, meskipun harga bahan pendukung produksi mebel juga mengalami kenaikan.

"Dengan adanya dolar naik tentu saja keuntungan meningkat. Eksportir sangat tertolong karena pembayaran menggunakan dolar, sementara sebagian besar bahan baku menggunakan mata uang lokal," kata Sekjen DPP Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Maskur Zaenuri.

Menurut dia, kondisi penguatan dolar saat ini berbeda dibanding krisis tahun 1998 karena faktor ekonomi global lebih kompleks. Meski begitu, sektor ekspor mebel Jepara masih cukup diuntungkan selama permintaan dari pembeli luar negeri tetap stabil.

Secara umum, kata dia, kondisi industri mebel ekspor Jepara masih cukup aman di tengah penguatan USD. Keuntungan eksportir diperkirakan meningkat seiring kenaikan kurs Dolar AS dari kisaran Rp 16 ribu menjadi Rp 17.781 per USD.

Meski, ia mengungkapkan kenaikan harga juga terjadi pada bahan penolong dan bahan pendukung produksi, terutama yang berbasis plastik seperti foam sheet, styrofoam, dan material kemasan lainnya. Bahkan, beberapa komponen mengalami kenaikan harga sampai 100 persen.

"Hanya saja bahan penolong ini tidak terlalu mendominasi biaya produksi, sehingga kenaikan keuntungan dari kurs dolar masih bisa menutup kenaikan biaya tersebut," ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (28/5).

Maskur menilai penjualan produk mebel Jepara secara umum masih relatif stabil. Namun, untuk produk garden furniture atau furnitur luar ruang mulai mengalami penurunan permintaan akibat faktor cuaca di negara tujuan ekspor seperti Eropa dan Amerika.

Menurut dia, musim panas di sejumlah negara tujuan ekspor saat ini tidak berlangsung optimal karena cuaca masih sering hujan dan suhu relatif rendah. Kondisi itu membuat permintaan produk garden furniture menurun.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore