Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Mei 2026 | 03.50 WIB

Rupiah Melemah dan Suku Bunga BI Naik ke 5,25 Persen, Ini Tips Strategi Amankan Keuangan Keluarga dari Defisit

Ilustrasi uang (Freepik) - Image

Ilustrasi uang (Freepik)

JawaPos.com - Tekanan ekonomi global kian nyata berdampak ke dompet masyarakat. Bank Indonesia (BI) baru saja mengambil langkah tegas dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.

Langkah ini diambil demi memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan meredam ketidakpastian global. Hari ini (21/5), di pasar spot, mata uang garuda ditutup melemah cukup dalam di posisi Rp 17.667 per dolar AS.

Kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga ini jelas memicu efek domino. Harga barang meroket, bunga cicilan berpotensi naik, dan daya beli masyarakat otomatis tergerus. Kendati situasi penuh tantangan, Anda tidak boleh patah arang.

Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno membagikan sejumlah strategi penting agar keuangan keluarga Anda tetap bertahan dan tangguh menghadapi badai ekonomi ini.

Realita di Lapangan: Daya Beli Merosot, Waspada Jebakan Paylater

Pelemahan rupiah bukan sekadar angka makro ekonomi, melainkan hantaman riil bagi keuangan pribadi. Saat ini, kenaikan harga sudah mulai terasa di berbagai sektor kehidupan sehari-hari.

"Jadi, bukan hanya yang pasti secara makro ekonomi berdampak, namun pastinya akan sampai juga kepada keuangan pribadi. Contoh ya, barang kebutuhan yang kita beli jika komponen untuk produksi bahan tersebut banyak menggunakan bahan impor, tentunya akan mengalami kenaikan harga ya," ujar Mike Rini kepada JawaPos.com, Kamis (21/5).

Kenaikan ini sudah terlihat jelas pada harga makanan di restoran, bahan pokok, jajanan, hingga tarif listrik dan bahan bakar. Ketika harga melambung sementara pendapatan tetap, kemampuan masyarakat untuk menabung dan membayar cicilan utang pun otomatis ikut menyusut.

Menariknya, di tengah himpitan ekonomi ini, ada pergeseran perilaku psikologis di masyarakat. Demi mempertahankan gaya hidup atau menutup defisit bulanan, banyak orang yang mulai ketergantungan pada pembiayaan instan.

"Nah, padahal dalam situasi ekonomi begini ya, itu harus hati-hati kita kalau kita mau menutup defisit keuangan keluarga kita dengan pinjaman," kata Mike.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore