Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Mei 2026 | 20.02 WIB

Rupiah Diprediksi Masih Volatile dalam Jangka Pendek, Ekonom INDEF: Bisa Bergerak Hingga Kisaran Rp17.900 

Ilustrasi penukaran mata uang asing di money changer

JawaPos.com – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M Rizal Taufikurahman memprediksi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih akan volatile dalam jangka pendek. 

Ia memperkirakan ruang gerak rupiah masih berada di kisaran Rp17.500–17.900 per dolar AS di tengah kuatnya tekanan global dan domestik.

"Saya melihat ruang pergerakan rupiah masih berada di kisaran Rp17.500–17.900 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan. Namun jika tensi geopolitik mereda, arus modal asing kembali masuk, dan pemerintah mampu menjaga kredibilitas APBN serta stabilitas makroekonomi, maka peluang penguatan rupiah secara bertahap tetap terbuka," kata Rizal kepada Jawapos.com, Senin (18/5).

Menurut dia, pelemahan rupiah yang sudah menembus Rp17.674 per dolar AS pada pantauan Senin (18/5) siang, bukan lagi sekadar gejolak harian, melainkan mencerminkan tekanan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.

Kondisi ini, kata dia, menunjukkan bahwa pasar sedang berada pada fase risk-off terhadap emerging markets, termasuk Indonesia. Apalagi di tengah tingginya ketidakpastian global, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.

"Penyebab paling dominan saat ini masih berasal dari faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, dan lonjakan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik. Sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga energi otomatis meningkatkan kebutuhan impor dan permintaan dolar AS," kata Rizal.

Di sisi lain, lanjut Rizal, faktor domestik juga ikut memperberat tekanan, mulai dari kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal, kebutuhan pembiayaan utang yang besar, hingga persepsi pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

"Jadi tekanan rupiah saat ini bukan hanya karena dolar kuat, tetapi juga karena premi risiko Indonesia ikut meningkat," tambahnya.

Bank Indonesia (BI) sendiri sudah melakukan berbagai intervensi melalui pasar spot, DNDF, dan stabilisasi pasar obligasi. Meski begitu, menurut Rizal stabilitas nilai tukar tak bisa hanya mengandalkan intervensi moneter saja tetapi juga harus melihat kondisi fiskal.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore