Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Mei 2026 | 15.14 WIB

Rupiah Tembus Rp 17.600 per USD, Pengamat Sebut Warga Desa Justru Lebih Terdampak

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

Konten: JawaPos.com - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 17.600 per dolar AS masih menuai perbincangan hangat. Sebab, hal ini disinyalir memberikan sejumlah dampak negatif pada roda perekonomian di Indonesia.

Terlebih, ungkapan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa rakyat di desa tak menggunakan dolar membuat topik ini menjadi lebih ramai lagi.

Pengamat pasar modal, Hans Kwee, mengungkapkan, bahwa sejatinya tekanan pelemahan rupiah di pedesaan lebih kuat dibanding di perkotaan. Hal ini terjadi karena roda ekonomi di pedesaan umumnya memproduksi barangnya sendiri, sementara bahan bakunya masih diperoleh dari impor.

“Kita harus akui di pedesaan itu lebih kuat (pengaruhnya), karena sebagian barangnya mereka produksi sendiri. ya mungkin gini, dia sayur aja nanam sendiri. Jadi beda dengan di perkotaan. Jadi ya mereka mungkin lebih resilient, lebih kuat pengaruhnya,” kata Hans Kwee saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (17/5).

Meski begitu, menurutnya, masyarakat di pedesaan tidak akan langsung terdampak. Sebab, pihak yang pertama kali merasakan dampaknya adalah produsen bahan pangan seperti halnya tahu dan tempe akibat kenaikan harga kedelai.

“Ya itu kan harganya pasti naik di sana. Terus mereka makannya kan ada yang beli tahu, tempe. Nah tahu, tempe kan pakai kedelai. Kedelai itu impor. Kalau rupiah melemah harga kedelai naik, harga tahu dan tempe jadi naik,” ungkapnya.

Hal ini juga berlaku pada sejumlah komoditas yang masih bergantung pada impor, seperti plastik berbahan minyak, beras, hingga ayam petelur dan ayam pedaging. Pasalnya, ayam membutuhkan pakan seperti jagung dan kedelai yang sebagian masih mengandalkan impor.

“Ayam itu kalau perternakan kita mau beli ayam, beli telur. Harganya terancam naik. Kenapa? Karena makanan ayam kita impor. Jadi itu ada jagung dan soybean, kan impor. Jadi pengaruh dolarnya itu mungkin tidak langsung pada masyarakat tetapi lewat transmisi barang-barang yang kita mau pakai,” tukasnya. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore