
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Konten: JawaPos.com - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 17.600 per dolar AS masih menuai perbincangan hangat. Sebab, hal ini disinyalir memberikan sejumlah dampak negatif pada roda perekonomian di Indonesia.
Terlebih, ungkapan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa rakyat di desa tak menggunakan dolar membuat topik ini menjadi lebih ramai lagi.
Pengamat pasar modal, Hans Kwee, mengungkapkan, bahwa sejatinya tekanan pelemahan rupiah di pedesaan lebih kuat dibanding di perkotaan. Hal ini terjadi karena roda ekonomi di pedesaan umumnya memproduksi barangnya sendiri, sementara bahan bakunya masih diperoleh dari impor.
“Kita harus akui di pedesaan itu lebih kuat (pengaruhnya), karena sebagian barangnya mereka produksi sendiri. ya mungkin gini, dia sayur aja nanam sendiri. Jadi beda dengan di perkotaan. Jadi ya mereka mungkin lebih resilient, lebih kuat pengaruhnya,” kata Hans Kwee saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (17/5).
Meski begitu, menurutnya, masyarakat di pedesaan tidak akan langsung terdampak. Sebab, pihak yang pertama kali merasakan dampaknya adalah produsen bahan pangan seperti halnya tahu dan tempe akibat kenaikan harga kedelai.
“Ya itu kan harganya pasti naik di sana. Terus mereka makannya kan ada yang beli tahu, tempe. Nah tahu, tempe kan pakai kedelai. Kedelai itu impor. Kalau rupiah melemah harga kedelai naik, harga tahu dan tempe jadi naik,” ungkapnya.
Hal ini juga berlaku pada sejumlah komoditas yang masih bergantung pada impor, seperti plastik berbahan minyak, beras, hingga ayam petelur dan ayam pedaging. Pasalnya, ayam membutuhkan pakan seperti jagung dan kedelai yang sebagian masih mengandalkan impor.
Baca Juga:Prabowo soal Pelemahan Rupiah Tak Berdampak ke Orang Desa, Pengamat UGM: Statement Gegabah!
“Ayam itu kalau perternakan kita mau beli ayam, beli telur. Harganya terancam naik. Kenapa? Karena makanan ayam kita impor. Jadi itu ada jagung dan soybean, kan impor. Jadi pengaruh dolarnya itu mungkin tidak langsung pada masyarakat tetapi lewat transmisi barang-barang yang kita mau pakai,” tukasnya. (*)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
