
Peserta lintas sektor berfoto bersama usai diskusi Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) Talks Vol. 2 yang membahas kesiapan energi nuklir Indonesia, dengan fokus pada penerimaan publik, strategi komunikasi, dan mitigasi risiko. (Istimewa)
JawaPos.com-Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) menggelar diskusi panel PYC Talks Vol. 2 pada Selasa, 28 April 2026 dengan tema “Program Energi Nuklir Indonesia: Penerimaan Publik, Strategi Komunikasi, dan Mitigasi Bencana”.
Forum ini menghadirkan pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari kementerian dan lembaga, akademisi, industri, hingga organisasi masyarakat sipil, guna membahas kesiapan Indonesia dalam mengembangkan energi nuklir sebagai bagian dari transisi energi nasional.
Founder dan Dewan Pembina PYC, Purnomo Yusgiantoro, menegaskan bahwa isu energi nuklir tidak bisa dilihat semata dari aspek teknologi. “Pengembangan energi nuklir tidak hanya merupakan persoalan teknologi, tetapi juga kesiapan tata kelola, komunikasi publik, dan mitigasi risiko,” ujarnya dalam sambutan pembuka.
Senada, Ketua Umum PYC Filda C. Yusgiantoro menegaskan komitmen lembaganya dalam mendorong kebijakan energi yang inklusif. “Kami berkomitmen mendorong kebijakan energi berbasis kajian yang inklusif, transparan, dan berorientasi pada ketahanan energi jangka panjang,” katanya.
Dari perspektif pertahanan dan geopolitik, Yayat Ruyat menilai energi nuklir memiliki peran strategis bagi Indonesia. “Energi nuklir memiliki nilai geopolitik, geostrategi, dan geoekonomi yang signifikan dalam memperkuat kemandirian energi, daya saing industri, serta stabilitas nasional,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) juga harus dilihat sebagai bagian dari sistem pertahanan nasional.
Dari sisi kelistrikan, perwakilan PLN, Didik Fauzi Dakhlan menyoroti pentingnya kesiapan sistem. “Integrasi jaringan listrik nasional dan kesiapan infrastruktur menjadi kunci agar PLTN dapat berfungsi optimal sebagai baseload power yang stabil dan rendah emisi,” ungkapnya.
Sementara itu, Djarot Sulistio Wisnubroto (BRIN dan Dewan Riset Nasional) menekankan bahwa tantangan utama justru berada di ranah sosial. “Tantangan utama pengembangan energi nuklir di Indonesia tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial. Penerimaan publik dan Social Licence to Operate menjadi faktor kunci keberhasilan,” tegasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
