Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 April 2026 | 17.07 WIB

Persingkat Rantai Pasok Pangan, Koperasi Merah Putih Diproyeksi Untung Rp 50 T

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman didampingi Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani di gudang Bulog Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). (Harianto/ANTARA) - Image

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman didampingi Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani di gudang Bulog Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). (Harianto/ANTARA)

JawaPos.com - Rantai pasok pangan dari pertani hingga konsumen akhir terlalu panjang. Hal itu memicu tingginya harga yang didapatkan konsumen. Sementara petani tidak mendapat keutungan lebih baik. Rantai pasok yang panjang itu hanya memberikan keuntungan kepada pihak ketiga atau middleman.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap bahwa untuk mempersingkat alur rantai pasok produk pangan dari petani hingga sampai ke konsumen akhir yakni lewat Koperasi Merah Putih. 

Dia menyebut selama ini total potensi keuntungan yang diperoleh middleman dengan rantai pasok yang panjang mencapai Rp 313,08 triliun. Rantai itu setelah dari petani dimulai dari pedagang pengumpul, distributor, subdistributor, hingga ritel. Dari ritel baru sampai ke konsumen akhir. 

"Di middleman untungnya bisa 10 persen, 20 persen, 30 persen (dari setiap tahap distribusi)," ujar Amran dalam diskusi dengan sejumlah pengamat di gudang sewa penyimpanan beras Bulog di Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4).

Dengan skema Koperasi Merah Putih, rantai pasok produk pertanian lebih pendek. Dari petani ke koperasi dan ke konsume akhir. "Potensi marginnya Rp 50 triliun," tegas Amran yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini.

Cara itu, kata dia, untuk meningkatkan nilai tukar petani (NTP). Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), NTP 125,35 pada 2026. "Ini tertinggi selama34 tahun  terakhir," tegasnya. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Amran menyebut bahwa stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog menembus 5.000.198 ton. Jumlah itu merupakan data per 23 April 2026. Semua beras tersebut disimpan di gudang milik Perum Bulog. 

Stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog yang menembus 5.000.198 ton merupakan yang pertama dalam sejarah Indonesia. Data per April 2026 ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Menurut Amran, capaian itu merupakan hasil kerja keras berbagai pihak. Kini pemerintah terus menambah kapasitas penyimpanan melalui penyewaan gudang guna menampung peningkatan produksi dan cadangan beras nasional.

Dia menyebut total kapasitas gudang penyimpanan Bulog secara nasional mencapai sekitar 3 juta ton. Sedangkan jumlah cadangan beras pemerintah mencapai 5 juta ton. Maka, sebanyak 2 juta ton lainnya disimpan Bulog di gudang yang disewa dari pihak ketiga.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore