Logo JawaPos
Author avatar - Image
30 Maret 2026, 01.55 WIB

Dari Dapur ke Rak Ritel: Jogja Siapkan “Rantai Nilai Lengkap” Industri F&B 2026

Tugu Yogyakarta. (Freepik/muhherjan88) - Image

Tugu Yogyakarta. (Freepik/muhherjan88)

JawaPos.com - Yogyakarta kembali bersiap menjadi episentrum pergerakan industri makanan dan minuman nasional. Bukan hanya karena reputasinya sebagai kota kuliner dan kota kreatif, tetapi karena pada 8–11 April 2026 mendatang, tiga pameran besar akan digelar secara terpadu di Jogja Expo Center, yakni Jogja Food & Beverage Expo 2026, Jogja Pack & Process Expo 2026, dan Jogja Printing Expo 2026. 

Kolaborasi tiga sektor ini menghadirkan satu ekosistem lengkap, mulai dari bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga strategi visual dan branding produk dalam satu rangkaian industri yang saling terhubung.

CEO Krista Exhibitions, Daud D Salim, menegaskan bahwa konsep pameran terpadu ini dirancang bukan sekadar untuk transaksi bisnis jangka pendek, melainkan membangun efek domino ekonomi yang berkelanjutan. 

“Kami tidak hanya menghadirkan pameran, tetapi membangun ekosistem yang memungkinkan pelaku industri untuk berkolaborasi, berinovasi, dan bertumbuh bersama. Sinergi antara sektor makanan minuman, packaging, dan printing adalah masa depan industri manufaktur Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers di Yogyakarta. Ia menambahkan bahwa Yogyakarta dipilih karena memiliki kombinasi unik antara kekuatan UMKM, komunitas kreatif, serta dukungan sektor pendidikan yang kuat.

Sebanyak lebih dari 110 peserta, termasuk 30 UMKM, akan mengisi tiga hall utama di JEC. Di sektor F&B, pengunjung dapat menemukan teknologi food processing, peralatan dapur profesional, hingga inovasi bahan baku dan functional ingredients. Pada saat yang sama, sektor packaging menghadirkan mesin produksi otomatis, teknologi kemasan ramah lingkungan, sistem keamanan pangan, dan solusi efisiensi logistik. Sementara industri percetakan menampilkan teknologi digital printing resolusi tinggi, label dan packaging printing, UV printing, serta solusi personalisasi yang kini menjadi tuntutan pasar berbasis visual.

Business Development Director Indonesia Packaging Federation, Ariana Susanti, menekankan bahwa kemasan saat ini memegang peranan strategis dalam memenangkan pasar. “Kemasan bukan lagi sekadar pelindung produk. 

Ia adalah wajah pertama yang dilihat konsumen dan menjadi bagian dari strategi pemasaran. Dengan kemasan yang tepat, nilai jual produk bisa meningkat signifikan dan membuka akses ke pasar yang lebih luas,” jelasnya. Menurutnya, kekayaan kuliner Indonesia sangat besar, namun perlu didukung standar kemasan dan branding yang kompetitif agar mampu bersaing di tingkat regional maupun global.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia, Ahmad Mughira Nurhani. Ia menilai industri percetakan memang menghadapi tantangan di era digital, tetapi justru memiliki peluang besar dalam sektor kemasan dan branding produk. 

“Kebutuhan cetak konvensional mungkin menurun, tetapi kebutuhan packaging berkualitas terus meningkat. Tantangannya adalah bagaimana industri grafika mampu memenuhi standar regulasi, termasuk penggunaan bahan food grade untuk kemasan makanan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kepatuhan terhadap standar keamanan pangan akan menjadi pembeda utama dalam persaingan industri ke depan.

Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, mengapresiasi penyelenggaraan pameran terpadu ini karena mempertemukan sektor yang saling melengkapi. “Yogyakarta memiliki ekosistem yang unik karena didukung pendidikan, budaya, dan pariwisata. Ide-ide kreatif di Jogja sangat cepat berkembang karena didukung komunitas dan pasar yang terbuka terhadap hal baru,” katanya. Ia juga menyoroti potensi besar generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha yang cenderung menyukai produk inovatif, mulai dari minuman herbal, kopi rempah, hingga camilan berbasis bahan lokal. Namun ia mengingatkan pentingnya konsistensi mutu, legalitas, sertifikasi halal, dan manajemen usaha yang profesional bagi pelaku UMKM agar mampu naik kelas.

Selain pameran teknologi dan business matching, berbagai program edukatif dan kompetisi turut digelar untuk memperkuat kapasitas pelaku industri. Demo memasak dan baking menghadirkan chef profesional yang menampilkan inovasi teknik dan menu kreatif, sementara kompetisi kopi dan roasting menjadi ajang adu keterampilan barista dan roaster dengan standar tinggi. 

Dari sektor teh, Dewan Teh Indonesia menggelar sesi edukasi mengenai perisa teh dan inovasi minuman berbasis susu tanpa gula tambahan untuk merespons tren gaya hidup sehat. Ketua Umum Dewan Teh Indonesia, Iriana Ekasari, menyebut hilirisasi produk teh menjadi langkah penting agar komoditas nasional ini tidak hanya berhenti di bahan mentah. “Kita harus memperkuat produk hilir dengan inovasi rasa dan kualitas yang sesuai selera pasar modern. Edukasi seperti ini membantu UMKM memahami tren dan standar yang dibutuhkan,” tuturnya.

Rangkaian pameran ini juga menjadi bagian dari agenda nasional yang akan berlanjut ke sejumlah kota besar seperti Surabaya, Bali, dan ditutup dengan ajang berskala internasional di Jakarta pada November 2026. Dengan konsep terintegrasi yang menyatukan proses produksi, pengemasan, hingga branding dalam satu ruang, Yogyakarta diproyeksikan tidak hanya menjadi tuan rumah pameran, tetapi juga pusat gravitasi baru bagi pertumbuhan industri kreatif berbasis manufaktur dan F&B di Indonesia.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore