Forum bertajuk “Sinergi Ekonomi Biru yang Selaras dengan Perlindungan Ekosistem Melalui Aksi Nyata di Tingkat Tapak”. (Yogi Wahyu/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Penguatan ekonomi biru Indonesia sebagai agenda strategis pembangunan nasional yang tidak dapat dilepaskan dari perlindungan ekosistem laut kembali digaungkan dalam forum bertajuk “Sinergi Ekonomi Biru yang Selaras dengan Perlindungan Ekosistem Melalui Aksi Nyata di Tingkat Tapak”. Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan Pesisir Lestari (YPL) berlangsung di Jakarta pada Senin (23/2).
Forum ini menyoroti bahwa masa depan ekonomi laut Indonesia sangat bergantung pada kolaborasi nyata dengan masyarakat pesisir sebagai aktor utama. Acara tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan yang representatif, antara lain dari KKP, Bappenas, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), kalangan akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga perwakilan langsung dari masyarakat pesisir dan kelompok disabilitas.
Konsolidasi kerja lintas sektor dalam forum ini menjadi langkah krusial untuk menghubungkan kebijakan ekonomi biru di tingkat nasional dengan implementasi yang konkret di lapangan. Para peserta mencapai kesepakatan bahwa tantangan utama saat ini bukan terletak pada proses perumusan kebijakan, melainkan pada penyelarasan pelaksanaan di berbagai sektor agar tidak berjalan secara parsial dan mampu memberikan dampak jangka panjang.
Baca Juga: Selalu Mengembalikan Troli Belanja Mereka ke Tempatnya, Memiliki 7 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi
Direktur Yayasan Pesisir Lestari, Dina Kosasih, memaparkan praktik baik yang telah diwujudkan di Teluk Jor, NTB. Contoh tersebut menunjukkan bagaimana tata kelola pesisir yang berbasis masyarakat dapat menjaga kelestarian ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Model kolaboratif pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil dinilai memiliki efektivitas yang dapat direplikasi di berbagai daerah pesisir di seluruh Indonesia.
“Penguatan peran masyarakat di tingkat tapak menjadi kunci agar ekonomi biru tidak berhenti sebagai jargon kebijakan,” ujar Dina.
Direktur Konservasi Ekosistem KKP, Firdaus Agung, menegaskan bahwa visi konservasi Indonesia merupakan fondasi strategis dalam pembangunan ekonomi biru.
“Konservasi merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat, dengan masyarakat sebagai aktor utama, bukan sekadar pihak yang dilibatkan. Dalam konteks ekonomi biru, masyarakat harus menjadi pelaku sekaligus penerima manfaat dari upaya konservasi,” jelasnya.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah 8 Ramadhan 1447 H Kota Palu, Kamis 26 Februari 2026
Sementara itu, perwakilan Bappenas menyoroti pentingnya mengintegrasikan konsep ekonomi biru ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, sehingga manfaatnya dapat benar-benar dirasakan oleh masyarakat pesisir.
Forum ini juga menggarisbawahi urgensi pengarusutamaan GEDSI (Gender, Equity, Disability, and Social Inclusion). Partisipasi perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya ditegaskan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola pesisir yang adil dan berkelanjutan, bukan hanya sebagai pelengkap program.
Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif proyek HATCH (Harnessing Adaptive Conservation Through Social Enterprises and Learning Hubs) yang didukung oleh COAST Facility Indonesia dan didanai oleh Pemerintah Inggris. Hasil pertemuan diharapkan dapat menjadi rujukan untuk memperkuat kebijakan dan praktik ekonomi biru Indonesia agar lebih adaptif, inklusif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat pesisir.
Ketua Lembaga Pengelola Awik-Awik Teluk Jor (LPATJ), Mustamin, menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi biru hanya akan tercapai jika laut tidak semata-mata dipandang sebagai komoditas, melainkan sebagai ruang hidup yang dikelola bersama dengan masyarakat pesisir sebagai mitra strategis.
Sejumlah rekomendasi strategis dirumuskan dalam forum ini, antara lain mendorong harmonisasi antara pengembangan ekonomi biru dengan perlindungan ekosistem, memperkuat tata kelola pesisir yang inklusif dan transparan, meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan usaha sosial mikro, serta memperluas skema pendanaan yang berpihak pada pemberdayaan masyarakat pesisir.
Selain itu, forum juga mendorong pembentukan kemitraan multipihak di tingkat tapak agar kolaborasi dapat berjalan secara nyata dan tidak hanya berhenti pada tataran wacana. (Ygi)

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
