
Papan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Rencana Penggantian seluruh direksi Bank Himbara dinilai berisiko pada pasar saham. (Nurul F/JawaPos.com)
JawaPos.com — Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mengganti seluruh direksi bank-bank milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Bank Himbara dinilai berpotensi memparah guncangan di pasar saham Indonesia yang tengah rapuh.
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai langkah Penggantian direksi bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) tersebut tidak hanya tak mendesak. Tetapi juga berisiko menimbulkan ketidakpastian baru bagi investor.
Menurut Bhima, wacana perombakan total direksi bank Himbara justru mencerminkan intervensi berlebihan terhadap tata kelola korporasi yang sudah seharusnya profesional dan independen.
“Ini sangat tidak urgen karena terkesan mencampuri Danantara sebagai pemegang kendali bank BUMN. Padahal kepemilikan saham bank-bank BUMN sudah tidak lagi sepenuhnya milik pemerintah karena sebagian besar sudah tercatat (listing) di bursa,” ujar Bhima kepada JawaPos.com, Minggu (1/2).
Ia mengingatkan bahwa pasar saham saat ini sedang berada dalam situasi tidak kondusif pasca keputusan MSCI terkait pasar Indonesia serta mundurnya Ketua OJK.
Dalam kondisi seperti ini, wacana pergantian direksi massal dinilai berpotensi menambah gejolak.
“Guncangan ke pasar saham bisa makin parah karena sebagian besar bank Himbara sahamnya listing di bursa. Situasi sedang tidak kondusif pasca MSCI dan mundurnya Ketua OJK. Jangan diperburuk lagi dengan inisiasi yang tak berdasar,” tegasnya.
Bhima juga menyoroti potensi risiko hukum apabila bank-bank BUMN dipaksa menyalurkan kredit program pemerintah dengan skema berisiko tinggi, seperti pembiayaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau koperasi desa (kopdes).
“Lagipula kalau bank BUMN dipaksa menyalurkan kredit program seperti MBG atau kopdes dengan risiko tinggi, direksi bank Himbara bisa terancam sanksi pidana. Ini bisa membuat direksi berada dalam posisi dilematis antara kepatuhan pada regulasi perbankan dan tekanan kebijakan,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa stabilitas pasar keuangan harus menjadi prioritas, terutama di tengah ketidakpastian global dan tekanan terhadap rupiah serta IHSG.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah kepastian kebijakan, bukan manuver yang berpotensi mengganggu kepercayaan investor terhadap bank-bank BUMN dan pasar modal Indonesia,” pungkas Bhima.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
