
Ilustrasi Emas Batangan. (Istimewa)
JawaPos.com – Harga emas dunia diproyeksikan bergerak pada pekan depan dengan kecenderungan menguat.
Sejumlah faktor global mulai dari geopolitik, perang dagang, hingga dinamika politik Amerika Serikat dinilai masih menjadi pemicu utama pergerakan harga emas alias logam mulia.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa pergerakan harga emas pekan depan masih terbuka ke dua arah, baik koreksi maupun melanjutkan tren penguatan.
“Kalau seandainya harga emas dunia turun, itu kemungkinan di level USD 4.960 per troy ounce. Untuk harga logam mulia domestik berada di sekitar Rp 2.852.000,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, Minggu (25/1).
Ia menambahkan, jika tekanan berlanjut hingga menyentuh level support kedua, harga emas dunia berpotensi turun hingga USD 4.904.
Kondisi tersebut diperkirakan bisa terjadi hingga Sabtu, dengan harga logam mulia di kisaran Rp 2.752.000.
Namun demikian, skenario sebaliknya justru dinilai lebih kuat. Menurut Ibrahim, harga emas dunia berpeluang naik menuju USD 5.020 pada Senin (26/1).
“Apakah nanti benar-benar menyentuh USD 5.020? Kita lihat saja. Tapi kalau itu terjadi, harga logam mulia bisa berada di sekitar Rp 2.992.000,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Ibrahim juga membuka peluang penguatan lanjutan hingga menyentuh level resisten kedua di USD 5.100. Jika level ini tercapai, harga logam mulia domestik diperkirakan menembus Rp 3.092.000.
“Wow, ini luar biasa. Ada kemungkinan besar menuju USD 5.100 sampai hari Sabtu (31/1). Tapi sepertinya tidak sampai Rp 3.100.000, kemungkinan di Rp 3.092.000. Itu di akhir Februari,” tegasnya.
Dengan proyeksi tersebut, Ibrahim menilai bahwa pada akhir Februari, level USD 5.000 ke atas sangat mungkin tercapai. “Ingat, resisten kedua di USD 5.100 itu setara dengan Rp 3.092.000,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Ibrahim memaparkan sejumlah faktor utama yang mendorong pergerakan harga emas dunia dan logam mulia.
Faktor pertama adalah geopolitik, disusul perang dagang, dinamika politik Amerika Serikat, serta keseimbangan suplai dan demand.
Dari sisi geopolitik, situasi Greenland sempat memberikan angin segar pasca adanya kesepakatan yang memungkinkan Amerika Serikat mengakses wilayah tersebut bersama NATO. Secara teori, kondisi ini seharusnya menekan harga emas.
“Namun kenyataannya tidak demikian. Ketegangan justru masih terjadi, terutama setelah Presiden Trump memperkarsai upaya perdamaian untuk Uni Eropa dan Gaza, tetapi negara-negara Eropa tidak mau bergabung,” jelas Ibrahim.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Belgia vs Prancis di Liga Nations UEFA: Les Bleus Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Tanpa Mbappe, Zidane Hadapi Ujian Berat
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UEFA Nations League: Misi Berat Kvaratskhelia Cs di Kandang
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di Liga Nations UEFA: Hrabri Sokoli Bakal Sulitkan Tuan Rumah
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Turki vs Italia di Liga Nations UEFA: Kans Ay-Yıldızlılar Hentikan Perlawanan Azzurri
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UEFA Nations League: Siapa Paling Kuat?

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022