
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta. (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com-Petani tebu sedang terpukul. Pasalnya hasil panen tebu mereka tidak bisa digiling, karena penggilingannya mandeg. Kondisi ini dipicu tetes tebu yang dihasilkan menempuk tidak laku dijual. Jika paksakan beroperasi, alat penggilingannya bakal rusak.
Keluhan dari komunitas petani tebu itu langsung direspons Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Dia langsung mengeluarkan kebijakan larangan terbatas (lartas) etanol dan tapioka. Khusus kebijakan lartas tapioka, menjawab kegelisahan petani singkong.
"Sekarang mengutamakan penggunaan produksi dalam negeri," kata Andi Amran Sulaiman di Jakarta.
Amran memastikan pemerintah berupaya mengambil kebijakan yang adil. Sehingga petani tebu atau pengusaha penggilingan bahagia. Kemudian pengusaha atau dunia industri tetap jalan. Lalu konsumen akhir bisa tersenyum.
Kebijakan lartas untuk etanol diambil karena sejak tahun ini produk impor dari Thailand masuk Indonesia. Akibatnya tetes dari pabrik penggilingan yang biasanya jadi bahan pembuatan etanol tidak terserap.
Bahkan impor dari Thailand ada yang masih berupa tetes juga. Tetes adalah produk sampingan dari proses penggilingan tebu.
"Selama lima tahun terakhir tetes kami terserap terus. Tapi sejak ada Permendag yang baru, harga tetes kami jatuh," kata Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Fatchudin Rosidi.
Dia mengatakan yang membuat tetes mereka tidak terserap dan memenuhi pabrik karena harganya jatuh. Dari yang idealnya Rp 2.000/Kg, menjadi hanya Rp 900/Kg. Penggilingan sementara tidak melepas tetes itu untuk mencegah kerugian.
Fatchudin menyambut baik adanya kebijakan lartas untuk etanol itu. Dia mengatakan setiap tahun tetes yang diproduksi dalam negeri mencapai 1,6 juta ton.
Dia berharap tetes lokal ini diserap dahulu oleh produsen etanol. Jika sudah tidak mencukupi, baru keran impor dibuka.
Sementara itu adanya lartas untuk tapioka merupakan keluhan dari petani singkong. Ketua Umum Perkumpulan Ubi Kayu Indonesia Dasrul Aswin mengatakan harga singkong sekarang sudah baik. Tetapi biaya produksi yang dikeluarkan sekitar 50 persen dari harga jual. Sehingga margin keuntungannya tipis.
Dengan adanya lartas tapioka itu, diharapkan bisa melindungi petani singkong yang banyak berada di Provinsi Lampung. Lewat kebijakan tersebut, produksi tapioka nasional semakin bergairah. Otomatis juga meningkatkan penghasilan petani singkong.
Untuk diketahui krisis harga singkong mulai mencuat pada Januari 2025 lalu. Dipicu banjir impor tepung tapioka yang menyebabkan hasil panen lokal tidak terserap.
Pada 23 Januari, ribuan petani singkong dari tujuh kabupaten di Lampung menggelar aksi protes di pabrik pengolahan tepung tapioka. Mereka menuntut harga sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) sebesar Rp 1.400 per kilogram.
Pasalnya harga jual saat itu anjlok hingga Rp 600–700 per kilogram. Jauh di bawah biaya produksi Rp 740 per kilogram. Sehingga membuat petani merugi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
