Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Agustus 2025 | 02.59 WIB

Digital Nomad: Tren Gaya Hidup Baru dan Peluang Ekonomi Kreatif Pasca Pandemi

Ilustrasi seorang digital nomad menyelesaikan pekerjaannya (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi seorang digital nomad menyelesaikan pekerjaannya (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Dahulu, bekerja identik dengan kegiatan membosankan dan penuh tekanan. Seseorang harus duduk diam di meja kerjanya dari pagi hingga petang. Namun kini, muncul profesi baru yang cukup menarik, terutama bagi mereka yang suka bepergian.

Dilansir dari Investopedia, digital nomaden atau yang akrab disebut digital nomad, adalah sebutan untuk mereka yang menyelesaikan pekerjaannya secara remote atau berpindah-pindah.

Mereka biasanya memiliki profesi yang tidak terikat lokasi dan mengandalkan teknologi serta internet untuk menunjang pekerjaan.

Berbeda dengan turis, digital nomad cenderung tinggal lebih lama di suatu daerah, bisa 1 hingga 6 bulan, bahkan lebih. Artinya, mereka juga mengeluarkan biaya lebih untuk sewa tempat, makan, transportasi, internet, dan sebagainya.

Dengan demikian, kontribusi finansial mereka terhadap daerah tujuan jauh lebih berkelanjutan dibandingkan wisatawan biasa.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di The Eastasouth Journal of Social Science and Humanities menemukan bahwa ekonomi digital nomad dapat mendorong pertumbuhan pendapatan.

Kehadiran mereka juga menciptakan peluang signifikan bagi UMKM, termasuk peningkatan pendapatan, perluasan basis pelanggan, dan peningkatan kualitas layanan.

Fenomena ini bermula dari pandemi Covid-19 yang mengharuskan segala aktivitas dilakukan jarak jauh.

Seiring berjalannya waktu, hal itu menjadi tren baru yang dilakukan banyak orang. Bali, Yogyakarta, dan Lombok menjadi tiga destinasi favorit bagi para digital nomad di Indonesia.

Dari kafe di tepi pantai Bali, mereka bisa rapat dengan klien di luar negeri. Dari hostel murah di Jogja, mereka bisa menyelesaikan proyek desain grafis.

Bahkan dari pulau kecil Lombok, mereka dapat merekam banyak konten, mengunggahnya, lalu mendapatkan uang begitu saja. Kerja sambil liburan kini bergeser menjadi gaya hidup baru.

Fenomena ini ternyata punya dampak besar bagi ekonomi lokal. Kafe-kafe baru bermunculan dan berubah fungsi menjadi "tempat kerja."

Co-working space juga semakin menjamur, dilengkapi dengan penyewaan kendaraan dengan harga terjangkau.

Namun, bukan berarti fenomena ini tanpa tantangan. Di beberapa daerah dengan populasi digital nomad yang tinggi, para pemilik tempat mulai menaikkan harga sewa, dan penginapan lokal pun merasa tersisih.

Di Bali, misalnya, respons penduduk sangat beragam. Sebagian menganggap fenomena ini ancaman bagi sistem kerja tradisional, sementara sebagian lainnya mulai menerima dan beradaptasi.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore