
Ilustrasi seorang digital nomad menyelesaikan pekerjaannya (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Dahulu, bekerja identik dengan kegiatan membosankan dan penuh tekanan. Seseorang harus duduk diam di meja kerjanya dari pagi hingga petang. Namun kini, muncul profesi baru yang cukup menarik, terutama bagi mereka yang suka bepergian.
Dilansir dari Investopedia, digital nomaden atau yang akrab disebut digital nomad, adalah sebutan untuk mereka yang menyelesaikan pekerjaannya secara remote atau berpindah-pindah.
Mereka biasanya memiliki profesi yang tidak terikat lokasi dan mengandalkan teknologi serta internet untuk menunjang pekerjaan.
Berbeda dengan turis, digital nomad cenderung tinggal lebih lama di suatu daerah, bisa 1 hingga 6 bulan, bahkan lebih. Artinya, mereka juga mengeluarkan biaya lebih untuk sewa tempat, makan, transportasi, internet, dan sebagainya.
Dengan demikian, kontribusi finansial mereka terhadap daerah tujuan jauh lebih berkelanjutan dibandingkan wisatawan biasa.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di The Eastasouth Journal of Social Science and Humanities menemukan bahwa ekonomi digital nomad dapat mendorong pertumbuhan pendapatan.
Kehadiran mereka juga menciptakan peluang signifikan bagi UMKM, termasuk peningkatan pendapatan, perluasan basis pelanggan, dan peningkatan kualitas layanan.
Fenomena ini bermula dari pandemi Covid-19 yang mengharuskan segala aktivitas dilakukan jarak jauh.
Seiring berjalannya waktu, hal itu menjadi tren baru yang dilakukan banyak orang. Bali, Yogyakarta, dan Lombok menjadi tiga destinasi favorit bagi para digital nomad di Indonesia.
Dari kafe di tepi pantai Bali, mereka bisa rapat dengan klien di luar negeri. Dari hostel murah di Jogja, mereka bisa menyelesaikan proyek desain grafis.
Bahkan dari pulau kecil Lombok, mereka dapat merekam banyak konten, mengunggahnya, lalu mendapatkan uang begitu saja. Kerja sambil liburan kini bergeser menjadi gaya hidup baru.
Fenomena ini ternyata punya dampak besar bagi ekonomi lokal. Kafe-kafe baru bermunculan dan berubah fungsi menjadi "tempat kerja."
Co-working space juga semakin menjamur, dilengkapi dengan penyewaan kendaraan dengan harga terjangkau.
Namun, bukan berarti fenomena ini tanpa tantangan. Di beberapa daerah dengan populasi digital nomad yang tinggi, para pemilik tempat mulai menaikkan harga sewa, dan penginapan lokal pun merasa tersisih.
Di Bali, misalnya, respons penduduk sangat beragam. Sebagian menganggap fenomena ini ancaman bagi sistem kerja tradisional, sementara sebagian lainnya mulai menerima dan beradaptasi.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
