
Susana salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com-Istilah baru Rohana (rombongan hanya nanya) dan Rojali (rombongan jarang beli) ramai diperbincangkan sebagai potret perubahan perilaku belanja masyarakat Indonesia.
Fenomena ini mengacu pada kebiasaan pengunjung pusat perbelanjaan yang hanya melihat-lihat atau bertanya harga tanpa melakukan pembelian atau sekadar datang tanpa niat berbelanja barang secara langsung.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti mengakui tren ini menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Perdagangan tengah berkoordinasi dengan berbagai asosiasi untuk mencari solusi agar minat belanja langsung di toko fisik kembali bergairah.
“Kami di Kementerian Perdagangan berupaya menawarkan berbagai solusi agar masyarakat tetap berbelanja langsung. Salah satunya adalah opsi pemberian diskon bekerja sama dengan berbagai asosiasi,” ujar Roro di Jakarta, Selasa (12/8).
Roro menjelaskan, kemunculan Rohana dan Rojali bukan semata akibat daya beli yang menurun, melainkan perubahan gaya hidup. Kini, banyak konsumen lebih memilih berbelanja secara daring, sementara kunjungan ke pusat perbelanjaan lebih difokuskan untuk aktivitas rekreasi seperti menonton film atau makan di restoran, baru kemudian berbelanja jika ada kebutuhan mendesak.
Fenomena ini menurut dia, menjadi tantangan tersendiri bagi sektor ritel luring (offline). “Kalau mereka ke mal, fokusnya bukan lagi shopping seperti dulu. Aktivitas hiburan lebih dominan, dan belanja jadi nomor sekian,” lanjut Dyah Roro Esti.
Meski begitu, Roro menegaskan, masih ada momen tertentu yang mendorong belanja langsung. Seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru, serta libur sekolah.
Pernyataan Roro sejalan dengan data Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang menyebut belanja daring justru meningkat. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), transaksi online di ritel dan marketplace tumbuh 7,55 persen secara kuartalan pada triwulan II 2025.
Pertumbuhan transaksi daring ini selaras dengan laju ekonomi nasional yang naik 5,12 persen secara tahunan pada periode yang sama. Artinya, konsumsi rumah tangga tetap berjalan, namun pola belanja masyarakat bergeser dari luring ke daring.
Fenomena Rohana dan Rojali menjadi sinyal penting bagi pelaku usaha ritel untuk beradaptasi. Strategi seperti penawaran diskon, pengalaman belanja yang lebih interaktif, hingga integrasi kanal online dan offline dinilai menjadi kunci untuk menarik kembali minat belanja langsung masyarakat di tengah derasnya arus perdagangan digital.

BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Pembagian Grup Liga 2 2026/2027 Berubah, PSIS Semarang dan Persiku Kudus Geser ke Wilayah Barat
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
PP Muhammadiyah Minta MBG Dihentikan Sementara, Sebut Mudaratnya Lebih Banyak
Momen Republik Ceko dan Afrika Selatan Harus Puas Bermain Imbang 1-1
