Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Agustus 2025 | 18.15 WIB

Fenomena Rohana dan Rojali: Perubahan Perilaku Belanja Masyarakat Indonesia

Susana salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Susana salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com-Istilah baru Rohana (rombongan hanya nanya) dan Rojali (rombongan jarang beli) ramai diperbincangkan sebagai potret perubahan perilaku belanja masyarakat Indonesia. 

Fenomena ini mengacu pada kebiasaan pengunjung pusat perbelanjaan yang hanya melihat-lihat atau bertanya harga tanpa melakukan pembelian atau sekadar datang tanpa niat berbelanja barang secara langsung.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti mengakui tren ini menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Perdagangan tengah berkoordinasi dengan berbagai asosiasi untuk mencari solusi agar minat belanja langsung di toko fisik kembali bergairah.

“Kami di Kementerian Perdagangan berupaya menawarkan berbagai solusi agar masyarakat tetap berbelanja langsung. Salah satunya adalah opsi pemberian diskon bekerja sama dengan berbagai asosiasi,” ujar Roro di Jakarta, Selasa (12/8).

Roro menjelaskan, kemunculan Rohana dan Rojali bukan semata akibat daya beli yang menurun, melainkan perubahan gaya hidup. Kini, banyak konsumen lebih memilih berbelanja secara daring, sementara kunjungan ke pusat perbelanjaan lebih difokuskan untuk aktivitas rekreasi seperti menonton film atau makan di restoran, baru kemudian berbelanja jika ada kebutuhan mendesak.

Fenomena ini menurut dia, menjadi tantangan tersendiri bagi sektor ritel luring (offline). “Kalau mereka ke mal, fokusnya bukan lagi shopping seperti dulu. Aktivitas hiburan lebih dominan, dan belanja jadi nomor sekian,” lanjut Dyah Roro Esti.

Meski begitu, Roro menegaskan, masih ada momen tertentu yang mendorong belanja langsung. Seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru, serta libur sekolah.

Data Ekonomi Tunjukkan Konsumsi Masih Tumbuh

Pernyataan Roro sejalan dengan data Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang menyebut belanja daring justru meningkat. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), transaksi online di ritel dan marketplace tumbuh 7,55 persen secara kuartalan pada triwulan II 2025.

Pertumbuhan transaksi daring ini selaras dengan laju ekonomi nasional yang naik 5,12 persen secara tahunan pada periode yang sama. Artinya, konsumsi rumah tangga tetap berjalan, namun pola belanja masyarakat bergeser dari luring ke daring.

Fenomena Rohana dan Rojali menjadi sinyal penting bagi pelaku usaha ritel untuk beradaptasi. Strategi seperti penawaran diskon, pengalaman belanja yang lebih interaktif, hingga integrasi kanal online dan offline dinilai menjadi kunci untuk menarik kembali minat belanja langsung masyarakat di tengah derasnya arus perdagangan digital.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore